HarianBernas.com – Pada edisi sebelumnya, kita sudah membandingkan keuntungan berinvestasi di pasar modal, bila dibandingkan investasi pada deposito perbankan. Apalagi pada kondisi saat ini suku bunga bank sedang mengalami penurunan.
Namun bukan berarti investasi pasar modal tidak memiliki kelemahan. Ada masanya kita memperoleh keuntungan dan ada masanya gejolak/risiko investasi di pasar modal meningkat. Setiap hal yang dapat memberikan potensi keuntungan, juga memiliki risiko. Untung rugi atau return risk menjadi ungkapan yang selalu berjalan bersama. Untuk itulah, Majoris Asset Management dalam artikel Navigasi Investasi ini akan memberikan ulasan mengenai berbagai seluk beluk investasi dan faktor yang dapat membantu pengambilan keputusan investasi.
Baca juga: Inilah 7 Daftar Aplikasi Investasi Resmi Versi OJK
Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Memasuki awal bulan November 2016, serangkaian data pertumbuhan ekonomi menarik untuk disimak. Selama kuartal 3 tahun 2016, Tiongkok mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,7%, angka ini masih dalam range target Pemerintah Tiongkok antara 6,5–7%. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok ini didukung kegiatan konsumsi dan investasi publik. Investasi publik meningkat 21,1%, sedangkan swasta baru meningkat 2,5%. Investasi swasta cenderung tertekan karena tingkat hutang swasta yang tinggi.
Bagaimana dengan Amerika Serikat?
Diluar ekspektasi pasar, pertumbuhan ekonomi AS kuartal 3 tahun 2016 mencatatkan kenaikan 1,5% YoY, dibandingkan periode sebelumnya 1,3% QoQ. Konsumsi swasta masih menunjukkan perlambatan tumbuh +2,1% dibandingkan periode sebelumnya +4,3%. Investasi swasta-lah yang lebih mendorong pertumbuhan, naik +3,1% dibandingkan periode sebelumnya -7,9%.
Dengan perkembangan data di atas, bagaimana pengaruhnya pada dinamika pasar modal:
- Pertumbuhan ekonomi Tongkok masih dalam range konsolidasi, hal ini mensiratkan bahwa Pemerintah Tiongkok masih akan melakukan intervensi untuk mendorong pemulihan ekonomi, baik dengan stimulus fiskal, pelonggaran moneter, menahan penguatan mata uang Yuan, belanja infrastruktur.
- Sedangkan pertumbuhan ekonomi AS yang naik di atas ekspektasi menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi AS terus berjalan baik (on the track). Walaupun konsumsi swasta masih tumbuh melambat namun terlihat para pebisnis mulai berani meningkatkan investasinya, untuk menangkap potensi pemulihan ekonomi. Dari sisi unemployment rate dan penambahan jumlah payroll juga pulih walaupun level pemulihannya masih cenderung melambat. Tinggal berikutnya kita perlu mengamati apakah peningkatan investasi swasta ini sifatnya sustain atau masih seasonal menyambut Natal dan Tahun baru.
- “Good news is bad news for shorter period”. Semakin kuat pemulihan data ekonomi AS, sayangnya menjadi sentimen di pasar akan kenaikan bunga The Fed. Probablitas kenaikan bunga The Fed di bulan Des 2016 ini langsung meningkat dari 60% menjadi 70%. Hal ini mendorong penguatan Dollar Index dan kenaikan yield US Treasury.
- Hal selanjutnya berujung pada gejolak di pasar modal Emerging Market, termasuk Indonesia. Penguatan Rupiah menjadi tertahan, pasar obligasi mengalami koreksi signifikan rata-rata -1,5 hingga 2% selama bulan Okt 2016. Adapun pasar saham masih meningkat 1,08%, namun cenderung bergerak volatile dalam range 5.330 – 5.450.
Baca juga: Inilah Jam Buka Bursa Saham di Indonesia 2021
Bagaimana Dengan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Memasuki awal November 2016 ini tentunya pelaku pasar menunggu rilisnya data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal 3/2016. Banyak yang berharap akan melihat trend pemulihan ekonomi namun banyak pula yang masih pesimis. Harapan akan adanya “Bottoming out economic growth” dari level pertumbuhan ekonomi yang sempat menyentuh level terendahnya 4,67% pada QQ2/2015 lalu.
Pemulihan ekonomi diestimasi terus berjalan. Walaupun tidak dalam level yang signifikan meningkat, namun setidaknya tumbuh dalam kisaran 4,9 – 5,1% yoy. Penopang pertumbuhan ekonomi masih dari konsumsi swasta yang memberikan kontribusi sebesar 55% terhadap nilai Gross Domestic Product (GDP). Namun konsumsi swasta dinilai masih bergerak flat pada QQ3/2016 ini, apalagi setelah melewati seasonality peak demand setelah Lebaran.
Adapun belanja pemerintah dan belanja modal yang masing-masing baru memberikan kontribusi pada nilai GDP sebesar 9,4% dan 32,4% diharapkan bisa menggerakan pertumbuhan ekonomi selama sisa kuartal di tahun 2016 ini. Walaupun kontribusinya lebih kecil bila dibandingkan konsumsi swasta, namun pertumbuhan belanja pemerintah dan belanja modal diharapkan dapat meningkat tajam selama QQ3 dan QQ4/2016.
Adapun kontribusi dari ekspor juga diharapkan meningkat, namun nilainya belum terlalu signifikan. Dengan demikian, kita masih melihat adanya potensi pemulihan ekonomi yang tentunya akan menopang pertumbuhan laba emiten dan pergerakan pasar modal ke depannya.
Bagaimana implikasi pertumbuhan ekonomi domestik pada pergerakan pasar modal dan nilai investasi kita, dapat disimak pada Edisi berikutnya: Pertumbuhan ekonomi, bagaimana pengaruhnya pada nilai investasi kita di pasar modal.
Baca juga: Mengenal IHSG, Cara Membaca, Jenis, Manfaat, dan Istilah Terkait
