HarianBernas.com – Dalam berinvestasi di instrumen keuangan seperti saham, obligasi, maupun Reksa Dana, kita akan selalu dihadapkan pada pertanyaan klasik investor ini, yaitu “Kapan waktu berinvestasi yang tepat bagi saya untuk mendapatkan keuntungan maksimal? Bulan ini atau bulan depan? Langsung masuk dalam jumlah besar atau saya cicil jumlah investasinya?”
Baca juga: Inilah Bedanya Karakteristik Obligasi dan Saham
Ada dua metode investasi yang umumnya dikenal oleh pasar, yaitu:
1. Lump Sum
Dalam metode ini, kita ambil contoh seorang investor yang memiliki modal investasi Rp.100 juta maka dia akan langsung menginvestasikan seluruh dananya pada satu transaksi pembelian investasi.
Kelebihan dari metode ini adalah jika investor kebetulan berinvestasi pada saat harga sedang berada pada titik terendahnya, maka investor akan mendapatkan keuntungan yang lebih maksimal.
Akan tetapi, kekurangan dari metode ini adalah tidak ada pelaku pasar yang benar-benar mengetahui apakah suatu harga pada suatu waktu merupakan titik terendah atau bukan.
Baca juga: Mengenal Trading Saham dan Cara Jitu Jadi Trader Handal
2. Rupiah Cost Averaging
Dalam metode ini, masih menggunakan contoh yang sama di atas, investor mencicil modal investasi Rp.100 juta-nya menjadi beberapa kali transaksi pembelian; bisa menjadi 5 kali, 10 kali, atau berapapun preferensi dari investor.
Kelebihan dari metode ini adalah mengurangi risiko konsentrasi dana pada satu transaksi pembelian. Oleh karena itu, ketika pasar bergerak turun maka investor masih dapat menikmati penurunan harga tersebut, dan jika pasar bergerak naik maka investor sudah memiliki porsi dana yang terimbas kenaikan harga tersebut.
Kekurangan dari metode ini adalah jika pasar dalam kondisi cenderung menguat terus dalam jangka waktu panjang, maka investor tidak dapat menikmati keuntungan semaksimal metode lump sum.
Sebagai contoh perbandingan metode Lump Sum dan Rupiah Cost Averaging, kita coba menggunakan dua contoh periode IHSG untuk mencari tahu metode mana yang sebenarnya lebih menguntungkan.
Baca juga: Mengenal IHSG, Cara Membaca, Jenis, Manfaat, dan Istilah Terkait
Contoh di bawah ini mengasumsikan:
- Dana sudah diinvestasikan dari hari pertama bursa dibuka setiap tahun
- Tidak ada penarikan dana yang dilakukan oleh investor
1. IHSG Periode 2007 – 2016
Dari data IHSG Periode 2007 – 2016, dapat kita tarik kesimpulan bahwa untuk periode tahun 2007 hingga 2016, metode Lump Sum ternyata memberikan imbal hasil yang relatif lebih menarik dibandingkan dengan Rupiah Cost Averaging. Hal ini dikarenakan kinerja IHSG yang cenderung bullish selama 1 dekade tersebut.
2. IHSG Periode 2000 – 2009
Untuk periode ini, kita dapat melihat bahwa walaupun kinerja IHSG secara umum menguat namun sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan di dua periode. Dalam hal ini, perbedaan antara metode Lump Sum dan Rupiah Cost Averaging ternyata tipis saja.
Namun, bayangkan jika investor berinvestasi secara Lump Sum pada tahun 2008, maka jika pada tahun tersebut terdapat kebutuhan mendadak maka investor terpaksa merealisasikan kerugiannya. Lain halnya jika investasi dilakukan secara Rupiah Cost Averaging, maka pada tahun tersebut hanya 10% dari porsi dana investor yang mengalami penurunan.
Baca juga: Inilah Jam Buka Bursa Saham di Indonesia 2021
3. IHSG Periode 2000 – 2007
Untuk periode ini, metode Rupiah Cost Averaging ternyata dapat mengungguli Lump Sum. Hal ini disebabkan karena pada 2 tahun awal investasidimana IHSG mengalami koreksi, hanya Rp 25 juta porsi modal dari Rupiah Cost Averaging yang mengalami koreksi tersebut, sementara porsi modal dari metode Lump Sum seluruhnya terkena efek dari koreksi tersebut.
Dalam pembahasan ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa secara umum dalam jangka waktu panjang, investasi secara Lump Sum menawarkan potensi keuntungan yang lebih maksimal, walaupun tidak mungkin metode Rupiah Cost Averaging dapat mengalahkan Lump Sum dalam skenario tertentu. Di sisi lain, Rupiah Cost Averaging menawarkan manajemen risiko yang lebih baik, sehingga jika investor berinvestasi dan pada saat yang sama memiliki kebutuhan dana mendadak, tidak perlu mencairkan dana investasinya.
Tidak ada satu metode investasi yang bisa 100% sesuai untuk semua investor, sehingga sesuaikanlah cara berinvestasi Anda dengan arus kas pribadi dan profil risiko Anda. Happy Investing with Majoris Asset Management!
Baca juga: Begini 3 Cara Membeli Saham Bagi Pemula dengan Mudah
