HarianBernas.com-Saya mempunyai banyak sahabat yang berprofesi sebagai pelukis. Mereka berasal dari kalangan akademisi dan otodidak. Keduanya memiliki keunggulannya masing-masing.Tidak semua seniman berambut panjang, bertato, atau berpakaian yang aneh-aneh. Ada juga seniman yang berpenampilan biasa-biasa saja.
Bagi seniman yang berpenampilan unik, tentu mereka punya alasan sendiri. Mungkin mereka merasa lebih mudah dikenal sebagai seniman jika berpenampilan seperti itu. Sebab masyarakat sudah terlanjur mengaitkan seniman dengan hal-hal yang unik dan nyeleneh. Meskipun pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar.
Umumnya, seniman yang saya kenal mencari penghasilan dengan cara menjual karya lukisannya secara langsung melalui galeri sendiri atau menjual dipinggir jalan.Cara lainnya adalah menitipkan karyanya ke galeri, baik dengan sistem jual putus atau konsinyasi. Biasanya seniman seperti ini memiliki pekerjaan tetap sebagai pekerja.
?Hidup hanya mengandalkan dari menjual karya lukisan membuat kehidupan seniman tidak menentu. Kadang dapat uang, kadang juga tidak punya sama sekali. Semua tergantung ramai atau tidaknya pembeli. Kalau sedang apes, jangankan membeli cat atau kanvas untuk melukis, untuk makan saja susah,? tutur Rusli, seorang pelukis sukses yang kini mangkal di Braga City Walk Bandung.
Solusi lain adalah menjadikan rumah tinggal seniman sebagai rumah seni dan objek wisata. Pengunjung bisa belajar melukis dan menginap disana dengan membayar sejumlah uang. Tentu saja agar menarik, rumah dan lingkungan di sekitarnya harus ditata sedemikian rupa dengan konsep tersendiri.
Asyiknya, seniman berkarya di rumahnya sendiri. Hasil karyanya dipajang disana.Pengunjung bisa melihat lukisan, menonton film pendek, mendengarkan musik, berfoto selfie, atau hanya sekadar duduk-duduk sambil berdiskusi. Pulangnya, para pengunjung bisa membeli lukisan, aksesoris bernuansa etnik, makanan khas daerah, atau kaos khas bermotif rumah seni.
Nah, agar bisa dikenal luas, seniman harus kreatif mempromosikan tempat tinggalnya ke publik, misal menjalin kerjasama dengan dinas pariwisata, biro perjalanan, komunitas guide dan hotel, serta aktif bersosialisasi di media sosial.
J. Haryadi
Associate Trainer Hebat Konsultama
