Bernas.id– Menjadi single parent bukan hal yang diinginkan siapapun. Orang tua yang menjadi single parent biasanya dikarenakan pasangannya telah meninggal lebih dulu. Walaupun sebagian lain, disebabkan ketidakharmonisan hubungan hingga berujung perceraian. Bagaimanapun wujud perpisahan itu, anak bukanlah objek yang harus ditelantarkan. Terutama perpisahan akibat perceraian. Luka yang didapat jelas lebih permanen. Bukan berarti hal ini mengizinkan diri untuk terus meratapi nasib karena hidup tidaklah berhenti dengan tangisan. Perhatikan dua langkah sederhana ini, lalu segera bangkit dari keterpurukan setelah perceraian.
- Pertama, beri jeda penjelasan. Beri waktu kepada diri sendiri untuk mampu menerima keadaan. Bercerai, bukanlah hal sederhana yang bisa dengan mudah diterima. Mampukan diri untuk menerima keadaan. Jangan terlalu lama mengubur kesedihan karena ada anak yang patut untuk dipikirkan. Kuatkan hati, berikan harapan bahwa hidup harus terus berjalan. Luka pasti mampu dibalut suka. Baru kemudian beri penjelasan pada anak. Bentuk penjelasan ini bisa berbeda seiring usia anak. Bagi balita, mungkin masih mudah memberi penjelasan dengan sedikit memanipulasi fakta. Namun untuk usia lebih besar, kadang penjelasan tidaklah sesederhana yang terlihat. Berhati-hatilah untuk usia ini, bisa jadi justru mereka akan merasa berdosa dengan keadaan kedua orang tuanya. Pasti memang ada luka, tapi ketahuilah, luka itu akan sembuh seiring waktu kita berusaha mengobatinya.
- Kedua, berikan keyakinan. Beri keyakinan pada diri sendiri bahwa hal ini pasti mampu dilewati. Keyakinan pribadi akan membangun kepercayaan diri sehingga lebih memudahkan dalam meyelasaikan permasalahan. Saat diri sudah yakin akan kapasitasnya, yakinkan anak. Beri keyakinan anak bahwa kitalah orang tua yang tidak akan meninggalkan ia. Beri keyakinan pada anak bahwa semua pasti baik-baik saja sebab ada kita yang selalu ada untuknya. Jangan pernah terlihat lemah di depan anak. Berusahalah untuk tabah dan lebih tabah.
Berjuang dan menatap masa depan adalah jalan satu-satunya untuk bangkit dari keterpurukan. Sedih, sudah pasti. Namun, pasti akan ada senyum saat air mata berusaha diseka. Setidaknya, berusaha untuk lakukan dua hal tersebut sebagai obat penawar kegelisahan.
