Bernas.id- Hujan deras mengguyur Surabara, Jumat 24/11/2017 seharian penuh. Banjir tak bisa dielakkan lagi, bahkan 70% wilayah Surabaya dikabarkan banjir. Hujan yang terjadi mulai dini hari dan hanya berhenti sesaat ketika salat Jumat, mampu menggenangi lebih dari 20 kecamatan di seluruh wilayah Surabaya. Termasuk Gresik dan Sidoarjo. Dua wilayah yang berbatasan langsung dengan Surabaya ini serta merta mengalami kejadian serupa. Misalkan saja, wilayah sepanjang Jalan Kletek, Taman, Sidoarjo, sudah menjadi langganan banjir bahkan dengan ketinggian meningkat. Wilayah ini tak pernah surut dari air selama hujan belum reda.
Menurut informasi yang didapatkan, ketinggian banjir bahkan sampai lutut orang dewasa. Ruas-ruas kota Pahlawan tergenang. Banjir dan kemacetan tak bisa dihalangi, terlebih menjelang malam. Beberapa polsek terlihat sampai turun tangan melancarkan arus lalu llintas, seperti di Frontage A.Yani, Bunderan Waru yang memang berbatasan langsung dengan wilayah Sidoarjo.
Surabaya, sebagai pencetus Green and Clean bahkan rujukan kota terbersih se-Indonesia masih belum terbebas banjir. Terlihat dari ruas-ruas sungai yang meluber, jarang ditemui genangan sampah seperti yang biasa terjadi saat banjir. Apa yang terjadi? Apakah gaya hidup sehat yang dterapkan di hampir seluruh wilayah Subaya menjadi percuma.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Sudah mengantisipasi datangnya bencana di Surabaya. Walau demikian, banjir yang terjadi di Surabaya lebih banyak disebabkan oleh sistem drainase kota. Kondisi fasilitas drainase Surabaya semula merupakan fasilitas irigasi, tetapi dialihfungsikan. Pengalihfungsian lahan inilah yang ditengarai menjadi sebab tidak mampunya drainase menampung debit air. Selain fakta beralihnya lahan terbuka menjadi area perumahan, penyebab lainnya adalah dari elevasi tanah yang lebih rendah menjadi elevasi tanah lebih tinggi, dari daerah tampungan menjadi daerah limpasan air yag menuju saluran drainase.
Di sisi lain, perkembangan peningkatan kapasitas drainase belum mampu mengimbangi adanya perubahan lahan. Hal inilah menjadi sebab meningkatnya titik banjir di wilayah Surabaya. Ketidakmampuan sistem drainase pun ditambah dengan ulah masyarakat itu sendiri. Beberapa lahan yang seharusnya menjadi area drainase, diakui menjadi lahan pribadi sehingga fungsi utamanya tidak maksimal. Beberapa area limpasan air bahkan tertutup sehingga debit air mencari aliran sendiri. Banjir, bukanlah tanggung jawab pemerintah setempat. Jika hal ini mampu dipahami bersama seluruh warga kota, banjir bukanlah menjadi momok setiap kali mendung menyelimuti Kota Pahlawan.
