Bernas.id – Pernah dengar kalau ibu rumah tangga rajin menyimpan sesuatu dengan alasan “sayang kalau dibuang”? Belajar hemat atau irit agar bisa melanjutkan hidup dibungkus dengan slogan terselubung ala emak-emak dari zaman feodal sampai zaman digital, dari anak era sepeda kumbang sampai anak era kekinian. Sepertinya hidup harus benar-benar irit agar uang belanja sebulan dapat dibagi tiga puluh hari.
Ilmu ekonomi ala ibu rumah tangga memang tidak ada dalam kurikulum manapun, namun bisa sukses dipakai di negara manapun. Beberapa perusahaan besar mencoba menerapkan ilmu manajemen ala ibu rumah tangga, tetapi belum ada yang berhasil 100%.
Wajar saja jika Menteri Keuangan kita dipilih seorang perempuan, terbukti walaupun negara mengalami himpitan ekonomi namun masih tetap terkendali. Simak, pelajari dan pahami ilmu manajemen ibu rumah tangga, yuk!
1. Penting dan utama
Setiap terima uang gajian, ibu rumah tangga selalu mendahulukan biaya yang penting seperti: uang SPP, iuran listrik, telepon, iuran kebersihan dan keamanan, serta gaji pembantu (kalau ada).
2. Penting tapi tidak utama
Setelah keperluan super penting, baru beralih ke urusan yang kedua. Penting tapi tidak utama karena prinsipnya masih bisa ditunda seperti logistik primer (beras, telur, gula, teh/kopi/susu dan mie instan), biaya transport suami dan anak-anak.
3. Kas lancar
Dana ini maksudnya untuk biaya harian seperti belanja untuk makan sehari dan uang saku anak-anak.
4. Dana taktis
Setelah semua urusan terpenuhi biasanya ibu rumah tangga memiliki dana taktis yaitu dana yang bisa dipakai dalam keadaan darurat, seperti ada anggota keluarga yang sakit, biaya keperluan kondangan atau biaya keperluan sekolah.
5. Arisan
Yang terakhir ini biasanya sangat diperlukan oleh ibu rumah tangga karena dengan cara ini IRT bisa menabung untuk membeli keperluan rumah tangga, perhiasan atau sekedar jalan-jalan. Jarang ada IRT secara khusus untuk berencana menabung.
Jadi walau tidak masuk akal tetapi bisa diterapkan. Walaupun terlihat pelit tetapi cara ini mampu mengendalikan perekonomian keluarga. Mau coba?
