Bernas.id – Indonesia. profesi guru sudah bukan profesi yang dipandang sebelah mata. Profesi yang mulai menjadi dambaan akibat tingkat kebutuhan di sejumlah wilayah, menjadikan kehidupan guru mulai diperhatikan pemerintah. Tunjangan grofesi guru ikut melejitkan pamorĀ profesi ini. Hanya saja, tidak semua orang mampu bahkan pantas menjadi guru. Dilihat dari segi profesionalitas, guru bukanlah profesi yang mudah dalam pencapaian. Mungkin tidak jika guru berstatus PNS, namun bagi guru yayasan terlebih honorer, tekanan profesionalitas agaknya tidak sebanding dengan iming-iming tunjangan yang diberitakan.
Terlepas dari segi tunjangan. Berstatus sebagai guru adalah hal luar biasa. Stempel 'panutan' otomatis melekat pada orang berstatus guru. Menerima atau tidak, kita yang sudah terlanjur menjadi guru wajib memiliki kompetensi setimpal. Kompetensi yang sesuai dengan bidangnya serta banyak kompetensi lain sebagai penunjang. Sebab, menjadi guru bukan hanya terbatas dalam area papan tulis atau ruang lingkup sekolah.
Guru jaman now, sewajibnya sadar kamera. Sadar bahwa dirinya adalah artis papan tulis di depan siswanya. Guru adalah orang pertama yang dianut dalam konsep pendidikan anak usia sekolah. Seorang guru yang menyadari dirinyalah artis papan tulis yang ditunggu setiap minggunya, akan mempersiapkan materi pembelajaran dengan matang sempurna. Sebab, dengan tingkat profesionalitas tertentu kadangkala melalaikan para guru ini untuk menyiapkan hal yang dirasa remeh ini.
Sebagai artis, tentu cara berpakaian juga wajib diperhatikan. Peserta didik jelas lebih menyenangi para guru dengan tampilan menawan, rapi, cantik ataupun ganteng namun tidak berlebihan. Sederhana tapi memikat. Inilah kunci menawannya seorang guru. Tak perlulah lisptik mahal, bedak tebal. Polesan ringan sederhana dengan olesan tipis lisptik sudah cukup menyegarkan penampilan. Dipadu dengan baju yang rapi, sekaligus parfum yang tidak terlalu mencolok. Para guru, wajib sadar kamera dengan penampilannya. Sebab, penilai utama tidaklah peserta didik, pun masyarakat sekitar. Tentu, hal ini sudah berimbas dengan nama baik sekolah.
Bukan musimnya guru jahat, guru jaman now, lebih banyak yang bersahabat dengan siswanya. Peserta didik bahkan lebih memercayai para gurunya dibandingkan orang lain. Jelas ini menguntungkan pihak guru, namun juga tidak semua guru memiliki kemampuan seperti ini. Beberapa guru bahkan ada yang terlewat dekat, hal yang seharusnya mampu dicegah. Sebab, profesionalitas tidak mengenal hati. Guru, harusnya mampu menyingkirkan rasa untuk konsisten dalam alur profesinya.
Jadilah guru yang tidak seperti biasanya. Dalam artian lebih positif, yaitu guru yang mampu berkembang dalam kemampuan, mengembangkan kemampuan yang dimiliki dna terus memberikan isnpirasi bagi siswanya. Guru yang biasa saja, tidak akan mampu berkambang bahkan jarang mau. Pada kriteria guru ini, profesi guru hanyalah rutinitas yang wajib dilalui. Jadilah guru yang tidak biasa-biasa saja. Guru dengan hasil karya nyata yang mampu mengembangkan kompetensi baik untuk dirinya maupun siswanya.
