Bernas.id – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sangat disibukkan dengan berbagai macam aktivitas duniawi. Mulai dari aktivitas kita bangun di pagi hari, melaksanakan sholat, pergi bekerja, sekolah, mengurus anak, hingga tiba malam hari, pulang ke rumah barulah kita bisa beristirahat. Namun pada saat pulang ke rumah, kita belum tentu bisa menenangkan diri, bisa jadi permasalahan kerja di kantor datang menghantui. Bahkan, kita akan sibuk memikirkan dan mempersiapkan bagaimana pekerjaaan keesokan harinya. Begitulah kehidupan kita yang terus berputar hingga setiap hari. Namun, tanpa disadari, kita hanya mempersiapkan hari-hari hanya untuk urusan duniawi saja dan lupa mempersiapkan bagaimana urusan di akhirat nanti.
Jika berbicara tentang kehidupan, yang ada dalam benak kita kehidupan merupakan hal yang fana. Kehidupan itu tidak terasa dan berlalu begitu cepat. Sedangkan kematian adalah sesuatu yang pasti. Surga itu di kelilingi oleh hal-hal yang tidak kita sukai, seperti sholat tepat waktu, tahajjud jam 3, membaca Qur?an dan bersedekah. Namun, neraka dikelilingi hal-hal yang kita sukai, seperti berfoya-foya dengan kehidupan dunia, mengejar harta, jabatan, wanita, dan pelampiasan hawa nafsu belaka. Rasa takut kita pada neraka akan membuat kita membenci hal-hal yang kita sukai tersebut, sehingga kita lebih mencintai amalan-amalan yang akan membawa kita kepada surga-Nya.
Ketika kita sibuk dengan urusan duniawi saja, tanpa kita sadar kita sudah melupakan urusan akhirat. Kita terkadang lupa bahwa tujuan hidup kita adalah untuk beribadah kepada-Nya. ?Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku (Q.S Adz Dzariyat : 56)
Hidup kita itu seperti kertas putih, hari demi hari, hingga tahun pun berganti siap untuk digoreskan tinta yang beraneka warna. Namun, Allahlah yang akan menilai seperti apa kualitas hidup kita. Seringkali kita segera mengangkat panggilan telepon dari atasan kita, tetapi ketika azan berkumandang, kita lupa bahwa panggilan dari Allah tidak disegerakan.
kita begitu pelit untuk menyedekahkan harta kita, tapi kita lupa bahwa harta yang kita miliki itu adalah pemberian dari Allah, yang didalamnya terdapat hak untuk orang yang membutuhkan. Begitu mudahnya kita menyisihkan harta untuk membeli gadget terbaru, tetapi untuk sedekah begitu berat. Jangankan untuk sedekah, bahkan untuk zakat yang hanya 2,5 % dari harta kita saja terkadang terasa berat untuk kita berikan. Seringkali kita bersedekah dari sisa-sisa harta kita, bukan dari harta terbaik kita. Padahal seharusnya kita boroskan harta untuk akhirat dan pelitlah untuk dunia.
Ahmad Rifa?i Rifan dalam bukunya yang berjudul “Tuhan Maaf Kami Sedang Sibuk”, mengatakan bahwa ketika hendak tidur, sejenak kita tanyakan pada diri kita:
- Jika ini adalah tidur terakhirku, sudah siapkah aku menghadap tuhan dengan diri saat ini?
- Jika ini adalah hari terakhirku, dosa apa yang sangat ingin aku minta ampunkan pada-Nya?
- Jika ini hari terakhirku, amalan apa yang akan menyelematkanku di alam Barzah?
- Jika ini adalah hari terakhirku, karakter apa yang ada dalam diriku yang membuat Tuhan mencurahkan rahmat-Nya padaku?
Mari kita pejamkan mata, renungkan sejenak dan beristirahat. Mungkin saja Allah akan menjadikan ini tidur terakhir kita, tapi semoga besok Tuhan masih memberikan tambahan umur untuk kita memperbaiki diri.
