Bernas.id – Sebagai muslim tidak layak jika kita berlebihan dalam menggunakan tubuh kita untuk bekerja, maupun belebihan dalam memanjakannya. Alasannya karena segala sesuatu yang berlebihan tidak sesuai dengan fitrah.
Contohnya, ada tipe orang yang workaholic yaitu yang sangat mencintai pekerjaannya, tetapi sering melalaikan jasadnya terutama makan, istirahat dan berolahraga. Biasanya golongan ini rentan terkena penyakit maag karena makan yang tidak teratur, dan stress yang tinggi dalam menghasilkan karya yang sempurna.
Dalam keadaan lain, ada tipe orang yang sangat menuruti keinginan untuk memenuhi nafsu makan dan selera. Apapun ingin dimakannya. Padahal tidak setiap makanan yang halal itu baik bagi seseorang. Makanan kurang baik jika dikomsumsi berlebihan. Ada aturan di mana seseorang pantang untuk memakan makanan tertentu. Misalnya yang memiliki alergi terhadap makanan, ia tidak bisa mengonsumsi makanan tersebut secara berlebihan karena akan timbul alergi seperti gatal-gatal, hingga mual, dan muntah. Penderita asam urat sebaiknya tidak mengonsumsi emping dan makanan lain yang memicu naiknya kadar asam uratnya. Penderita darah rendah jangan banyak mengonsumsi mentimun, semangka, dan seledri.
Seseorang yang sangat mementingkan bentuk ideal tubuhnya terkadang melakukan diet yang berlebihan demi mencapai tujuan. Bisa jadi sesuatu yang dipaksakan sebenarnya menyiksa tubuhnya sendiri, sehingga akan menimbulkan penyakit karena dietnya, seperti maag, keropos tulang, dan defisiensi zat gizi.
Sebagaimana kita tahu, etika makan dan minum telah dicontohkan oleh rasulullah saw., yaitu sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk udara. Ketika makan, berhentilah sebelum kenyang untuk menghindari berlebih-lebihan.
Seorang muslim dilarang melakukan puasa terus menerus tanpa berbuka. Beribadah tanpa henti, atau terus menerus membaca Al Qur?an, tapi melalaikan aktivitas lain pun tidak dianjurkan. Ada sahabat yang pada masa mudanya bernadzar melakukan puasa Daud sepanjang hidupnya. Kemudian ketika tua, ia menyesali diri karena tidak sanggup lagi menunaikan nadzarnya. Demikian juga seorang muslim, kita dituntut untuk proporsional dalam melakukan segala sesuatu agar tidak terjerumus pada hal yang berlebih-lebihan.
Adapun yang menyia-nyiakan nikmat Allah seperti makanan, umur, waktu, dan fasilitas-fasilitas lain juga tidak baik. Sebaiknya kita membuat perencanaan diri dalam manajemen waktu, sehingga tidak sia-sia dalam menggunakannya. Merencanakan pengeluaran harian, bulanan, agar tidak memboroskan harta untuk yang tidak perlu. Di dalam Al-Qur?an juga terdapat peringatan untuk tidak bersifat boros yaitu, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada tuhannya.” (Al Isra? ayat 27)
Tentu saja kita tidak ingin masuk ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saudaranya setan. Oleh karena itu, marilah dari sekarang kita berusaha untuk membuat perencaan waktu, pengeluaran, dan juga mengatur aktivitas kita. Dengan begitu, semoga kita tidak temasuk bagian dari orang yang berlebih-lebihan dan sia-sia.
