Bernas.id – Memiliki anak yang cerdas, kreatif dan berprestasi adalah dambaan setiap orang tua. Berbagai hal pun dilakukan untuk menyiapkan pendidikan bagi putra-putrinya. Hal pertama dilakukan biasanya jika anak berumur 3-4 tahun adalah memasukan ke PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), atau sekarang di kota-kota besar sudah ada yang namanya sekolah bayi. Setelah itu dilanjutkan ke TK (Taman Kanak-Kanak), SD (Sekolah Dasar), dan seterusnya sampai ke perguruan tinggi. Satu harapan yang ditanamkan oleh orang tua adalah ingin menjadikan anaknya sebagai anak yang cerdas, berbakat dan lain-lain.
Bekal pendidikan formal saja tidak cukup untuk mempersiapkan masa depan seorang anak. Selain itu seorang anak perlu dibekali dengan berbagai hal untuk menyambut masa depan mereka. Karakter dan mental yang kuat pun perlu ditanamkan pada jiwa-jiwa generasi penerus bangsa ini. Pengetahuan yang tinggi saja, tanpa dibarengi dengan karakter yang baik akan terbentuk moral yang buruk. Hal ini yang biasa menjadikan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang disalahgunakan. Bukannya untuk kepentingan orang banyak, malah digunakan untuk merugikan orang lain.
Karakter seseorang tumbuh di tengah-tengah keluarga dan lingkungan sekitar. Seperti pendapat sebagian besar orang, bahwa anak mulai belajar sejak masih dalam kandungan ibunya. Sehingga ibu hamil sering memperdengarkan lagu-lagu pada anaknya sejak bayi masih dalam kandungannya. Tujuannya untuk merangsang otak mereka dengan harapan anak yang dikandungnya menjadi cerdas setelah lahir. Atau dengan kata lain cerdasnya sejak masih dalam kandungan.
Anak yang terlahir ke dunia, kemudian diperkenalkan dengan lingkungan keluarganya, Ibu adalah sosok yang paling pertama di kenal oleh sang anak. Ketika anak mulai berinteraksi dengan lingkungannya, tentu yang mendampinginya adalah ibu. Bahkan saat mulai berbicara ucapan pertama yang keluar dari mulutnya adalah kata mama. Setelah itu dengan bimbingan ibu, anak mulai mengenal lingkungannya. Lingkungan yang pertama kali dikenal adalah lingkungan keluarganya, mulai dari anggota keluarga, lingkungan rumah. Anak mengenalnya karena hal itu adalah hal yang paling sering dijumpainya. Mengamati setiap perubahan yang ada di sekitarnya, bahkan anak juga mulai belajar berbicara dengan mengucapkan kata-kata karena sering mendengarkan ucapan dari orang yang ada di sekitarnya. Misalnya ucapan kata “mam”, yang biasa di ucapkan anak saat melihat makanan atau pada saat hendak makan karena seringnya seorang anak mendengar ucapan itu.
Pada saat anak belajar berbicara dengan mengucapkan sesuatu yang belum sempurna, maka orang yang ada di sekitarnya yang berusaha mengajarkan pengucapan kata itu dengan baik. Sang anak akhirnya mulai dapat berbicara dengan sempurna, mengenal dan mampu menyebut nama benda-benda yang ada di sekitarnya. Anak- anak selalu belajar dengan apa yang mereka sehari-hari, mereka akan belajar dari hal tersebut, dan kadang mempraktekkannya. Tanpa mampu membedakan atau menyaring mana hal yang baik, dan mana hal yang buruk. Di sinilah peran keluarga sangat dibutuhkan dalam menentukan karakter anak. Keluarga harus mendampingi sang balita, mengajarkan atau memperkenalkan hal-hal yang baru, yang bersifat positif. Banyak hal yang terjadi pada anak akibat kuranganya perhatian dan pengawasan orang tua, anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang baik. Karakter anak yang tumbuh ibarat kertas kosong, yang sedikit demi sedikit mulai muncul coretan-coretan yang akan terbentuk menjadi sebuah gambar. Orang tualah yang bertugas untuk mendampingi dan membantu menyempurnakan coretan itu menjadi sebuah gambar. Bagus atau tidaknya hasil tersebut tergantung dari peran orang tuanya.
Oleh karena itu, peran orang tua sangat menentukan karakter seorang anak, pendidikan dari keluarga merupakan pendidikan yang pertama kali dikenal anak, sebelum memasuki dunia sekolah. Karakter yang tumbuh di tengah keluarga yang kemudian di bawah oleh anak kelingkungan sekitarnya. Bagaimana seorang anak bergaul dengan teman-temannya, bagaimana dia berperilaku di tengah-tengah lingkungannya, justru tidak jauh berbeda dengan sikapnya pada saat berada ditengah-tengah keluarganya. Sudah menjadi tugas orang tualah untuk membimbing anak-anaknya menjadi anak yang berkarakter baik, sehingga anak tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh buruk lingkungan yang ada di sekitar mereka.
