Bernas.id ? Sosial media merupakan sarana eksistensi seseorang dalam mengekspresikan diri. Sekarang ini tidak hanya kalangan anak muda saja yang tertarik pada sosial media namun generasi tua pun ikut tertarik untuk eksistensi diri. Tidak jarang bisa dilihat di sosial media video maupun foto yang akhirnya menjadikan viral dan hits diikuti oleh banyak orang. Fenomena ini menjadikan setiap orang memiliki hasrat untuk menonjolkan sisi dalam kehidupannya melalui media sosial.
Media sosial sekarang ini sudah cukup banyak macamnya, seperti BBM, WA, Instagram, Twitter, bahkan Facebook. Hampir semua media sosial memiliki fitur untuk upload foto atau posting foto. Bahkan beberapa sosial media menampilkan fitur live video.
Tidak semua yang ditampilkan pada sosial media merupakan sesuai dengan kenyataan yang ada, bahkan hubungan yang terjalin melalui sosial media terkadang merupakan suatu hubungan maya. Karena melalui sosial media terkadang mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Pengaruh sosial media ini sangat berkembang cepat, sesuatu yang menjadi tren mudah diikuti dan diminati banyak orang. Tidak jarang posting-an yang ditampilkan di sosial media menjadi tuntutan dan ingin terlihat seperti orang lain. Inilah yang perlu disaring ketika menggunakan sosial media.
Hubungan di sosial media tidak hanya hubungan dengan lawan jenis saja. Pertemanan juga bisa dikategorikan, tidak hanya foto selfie saja yang menjadi tren dan diikuti oleh banyak orang. Jenis foto groufie juga banyak diminati orang dan menjadi tren. Bahkan baru-baru ini muncul istilah squad, umumnya perempuanlah yang banyak terpengaruh dan menciptakan foto groufie dengan squad-nya. Tapi suatu hal yang nampak di dunia maya belum tentu sama dengan keadaan yang sebenarnya.
Mirisnya lagi jika berswafoto bersama dengan membentuk squad hanya untuk kepentingan sosial media saja, mengesampingkan nilai pertemanan yang sesungguhnya. Jangan sampai pertemanan yang ditampakkan hanya tersirat melalui gambar saja, sedangkan empati yang sebenarnya sangat minim sekali.
Terpenjara oleh sosial media, terkadang cukup menyedihkan. Berkumpul bersama dengan teman atau kolega untuk mengedepankan swafoto, asyik sibuk dengan gadget masing-masing. Sosial media memang tempat untuk mengekspresikan diri, tetapi jika dengan adanya sosial media menjadikan orang memiliki sindrom narsis inilah yang perlu direnungkan lagi. Apalagi jika menimbulkan rasa untuk menuntut diri sendiri terus aktif dengan sosial media. Secara rutin mengupload foto atau bahkan mengikuti gaya dan kehidupan seseorang sampai terbawa perasaan, itu sangat merugikan.
Menyikapi sosial media, jangan semata-mata melihat melalui tampilannya saja. Selain itu dalam menggunakan sosial media jangan sampai mudah terbawa perasaan. Melalui sosial media banyak manipulasi yang akan dilakukan untuk membuat sebuah tampilan menjadi bagus untuk menarik perhatian orang lain. Oleh karena itu, menyikapi sosial media dengan bijak merupakan langkah yang sangat tepat. Jangan jadikan budaya ikut-ikutan menjadi kebiasaan.
