Bernas.id – Buah hati selayaknya permata berharga. Permata ini meredup sinarnya saat sakit mendekatinya. Entah sebab makanan atau minuman yang tanpa sengaja terkontaminasi, atau lingkungan yang diketahui kurang terjaga. Buah hati bunda, bisa saja terserang bakteri/virus, diare misalkan. Sakit sederhana yang bisa menjadi wabah ini memang tidak sepatunya diremehkan. Sebagai orang tua, wajiblah waspada terutama dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat saat ini. Jika anak kita diare, lakukan cara pencegahan agar diare cepat diatasi dengan:
Perhatikan interval diare
Sejumlah dokter sepakat, baru bisa dikatakan menderita diare jika si anak tersebut pup lebih dari lima kali dalam satu hari penuh. Ukuran ini adalah batas normal sehatnya pencernaan. Atau, jika jarak antara waktu pup dengan selanjutnya kurang dari dua jam secara kontinyu. Tidak berhenti disini, diare yang sebenarnya bisa diketahui dari bentuk feses yang lebih berair dengan bau yang tajam menyengat dan biasanya berwarna hijau. Hal ini disebabkan adanya bakteri yang ada di dalam perut. Jika permata hati kita mengalami hal ini, kemungkinan besar dia terserang diare.
Disertai muntah
Sebagian orang zaman dulu, menganggap muntah sebagai tanda masuk angin. Terlebih jika muntah ini terjadi menerus. Bahkan tak jarang memberikan pengobatan turun temurun dari nenek buyut, kerokak. Yaitu, dilukainya kulit punggung dengan logam halus secara vertikal dengan terlebih dahulu dibaluri minyak kayu putih atau minyak lain menurut keyakinan. Tanda merah sebagai bekas tempat tersebut, diyakini sebagai tanda masuk angin. Cara ini dipercaya efektif secara temurun. Bahkan, cara ini pun diaplikasikan untuk anak balita namun dengan mengganti logam dengan umbi bawang merah.
Secara ilmu modern, cara kerokan dengan bentuk apapun jelaslah kurang tepat. Sebab, hal tersebut justru akan melukai kulit terutama jenis kulit yang sensitif. Memberikan kehangatan lebih untuk si kecil, dengan sering memberikan minyak penghangat badan, sudah cukup dibanding cara yang belum dijamin secara kesehatan.
Hindari sayur dan buah
Sayur dan buah memang menu wajib untuk mendukung aktivitas serta gizi si kecil. Namun dalam kondisi diare, hilangkan dua menu ini dalam daftar makanan. Buah dan sayur menambah diare lebih sering terjadi. Hal ini dikarenakan sifat buah dan sayur sebagai pelarut dalam pencernaan. Sebaliknya, jika terjadi konstipasi (susah pup) buah dan sayur memang pilihan wajib. Diare tidak hanya diketahui dari seringnya b-a-b encer saja namun juga disertai muntah. Jika setelah memakan sayur atau buah, si kecil muntah atau feses dengan ciri di atas, maka segera hentikan pemberian buah dan sayur. Berilah si anak makanan padat dengan protein tinggi, seperti daging sapi atau ikan. Berikan makanan dengan skala kecil.
Jangan berikan susu atau jelly dan makanan sejenisnya
Hentikan susu untuk sementara waktu terutama jika muntah lebih intens. Sistem pencernaan akan menolak protein susu dengan cara mengeluarkannya kembali. Terutama jika anak menyenangi jelly atau makanan kenyal lain. Jenis makanan ini sebaiknya dihindari dulu sementara waktu. Sebaliknya, berikan air putih hangat atau teh tawar sebagai suplai cairan tubuh. Terlalu banyak mengeluarkan cairan tubuh, juga kurang baik bagi si kecil. Jika diketahui si kecil terlalu lemas akibat seringnya muntah, dan menolak makanan, wajahnya makin pucat, segera bawa si kecil ke dokter atau tempat kesehatan lain agar cepat tertangani dengan baik. Menyepelekan sakit bisa berdampak kurang baik.
