Bernas.id – Seblak, kerupuk berbumbu yang lebih cenderung pedas. Makanan khas Jawa Barat ini sudah dikenal terutama di kota-kota besar. Perlu dipahami, seblak bahkan tidak hanya berbentuk olahan krupuk yang direbus saja. Beberapa jajanan ringan ini lebih banyak ditemui dalam kondisi kering. Jajanan yang seringkali dikonsumsi di lingkungan sekolah, dengan harga yang relatif terjangkau. Berwarna merah menyala, berbentuk seperti makaroni kering. Beberapa tempat menyebut makaroni kering pedas inilah seblak. Bahkan, kemasan plastik tersebut menyebut demikian.
Media mencatat beberapa kasus keracunan akibat seblak. Benarkah makanan yang memiliki cita rasa khas Jawa Barat ini beracun? Setidaknya, alasan berikut menjadikan seblak sebagai racun. Seblak kering. Camilan renyah yang mampu didapat dengan hanya seribu rupiah di kantin sekolah, lebih banyak memakan korban. Warna merah dengan rasa yang teramat pedas menjadikan makaroni pedas kering ini disebut sebagai seblak. Puskesmas Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo, mencatat adanya sepuluh kasus diare anak setelah mengonsumsi seblak ini. Dua diantaranya mengalami diare akut hingga diwajibkan opname.
Bukanlah cemilan sehat jika mengandung pengawet ataupun penguat rasa berlebihan. Campuran boraks serta formalin berlebih ditengarai menjadi sebab cemilan satu ini tidak aman dikonsumsi berlebihan. Mengonsumsi makaroni kering pedas ini, sesekali waktu tidak menjadi masalah. Namun konsumsi melebihi tiga bungkus sehari atau tanpa jeda hari, akan berdampak buruk bagi kesehatan, terutama kesehatan tenggorokan bahkan pencernaan.
Seblak asli, yaitu krupuk yang direbus dengan ditambah beberapa bumbu. Masalah terjadi, sebab tidak semua seblak mengalami perebusan. Beberapa penjual hanya merendam krupuk beberapa jam bahkan semalaman sebelum diolah. Penggunaan air yang tidak diketahui jelas sumbernya ini jelas berdampak pada kesehatan penikmatnya.
Tambahan pengenyal atau bleng, bisa jadi tidak dipahami sepenuhnya oleh konsumen. Wajar saja jika didapati kasus peradangan usus pada anak setelah konsumsi seblak ini. Walaupun penggunaan boraks pada bahan makanan jelas tidak diperkenankan, nyatanya penjualan bleng atau boraks belum juga diputus secara tuntas.
Seblak, sejatinya makanan khas Jawa Barat yang memberikan citarasa tinggi. Ditambah dengan variasi jenis isian seblak, seperti sosis, bakso, bahkan sayuran. Makanan ini pada dasarnya tidaklah berbahaya jika dibuat dengan cara yang benar serta menjaga kesehatan. Masalahnya, tidak semua penjual seblak melaksanakan standarisasi ini. Wajarnya, belilah seblak di tempat yang terpercaya atau membuat seblak sendiri di rumah.
Perlu diingat, hendaknya tidak mengonsumsi seblak dalam jangka waktu kurang dari 1 minggu. Terlebih jika penikmat seblak cenderung memilih level pedas tingkat dewa. Memerhatikan kesehatan usus dan pencernaan sepatutnya dilakukan. Sebagai saran, sertakan menu pilihan sayuran dalam isian seblak. Sayur setidaknya mampu mengimbangi konstipasi yang terjadi dalam usus akibat makan seblak berlebihan.
