Bernas.id – Sekira pukul empat sore, Saparan Bekakak kembali digelar meriah di Ambarketawang Gamping Sleman Yogyakarta. Ribuan orang mulai memadati sisi-sisi ruang jalan untuk melihat parade arak-arakan Bekakak dan pengiringnya ogoh-ogoh raksasa.
Bambang Cahyono, Ketua Panitia Saparan Bekakak menceritakan bahwa tradisi bekakak dimulai dari tahun 1755. “Waktu itu berdasarkan perintah Hamengku Buwono I, warga diperintah supaya membuat sesaji sepasang penganten yang terbuat dari tepung beras. Ini karena seringkali warga yang menambang batu Gamping sering terjadi kecelakaan kena runtuhan batu gamping,” ceritanya di lokasi prosesi bisa di Ambarketawang, Jumat 26 Oktober 2018.
“Menurut warga ketika itu karena ada gangguan makhluk halus atau penunggu gunung Gamping,” imbuhnya.
Selain penambang, Bambang juga menyebut Ki Wirosuto juga menjadi korban karena tinggal di goa Gunung Gamping. Goa runtuh dan keluarganya menjadi korban dan jasadnya tidak ditemukan. “Sering ada timbul bau harum yang sekarang ini menjadi nama sebuah desa, yaitu Ambarketawang atau bau harum di tempat tinggi,” tuturnya.
“Karena masih banyak korban, sekarang masih tetap kita lestarikan bekakak ini. Kita berpedoman pada ritual waktu itu, Jumat pada bulan purnama. 15 Safar. Jumat mendekati 15. Intinya pas bulan purnama. Tahun ini pas tanggal 14, 15 Safar,” imbuhnya.
Ia pun menceritakan bahwa di tahun-tahun sebelumnya dan sekarang ini tidak ada perbedaan yang signifikan. “Masih ritual yang sama. Pakai tepung beras ketan dan beras jawa. 2 banding 3. Kita buat dua pasang. 35 kg tepung. Ketan 14 kg, gula jawa 21 kilo. Nanti disembelih di bekas gunung keliling yang masih ada bekas batunya gamping yang dikelola KSDA,” jelasnya.
Bekakak ini, sebut Bambang seperti biasa ada sepasang genderuwo yang digambarkan sebagai penunggu gamping yang sering ganggu warga Gamping. “Kita mulai dari kemarin, dua pasang bekakak dan sesajinya. Malam kita bawa ke balai desa. Siang dikirab ke tempat penyembelihan. Rute kirab Jalan Wates ke timur, lalu keselatan,” ujarnya.
“Maknanya itu pada dasarnya permohonan keselamatan bagi penambang. Bekakak itu fungsinya itu. Tapi, doanya masih sama keselamatan kesehatan kemakmuran dan lain-lain,” imbuhnya.
Dalam sesaji itu, Bambang menjelaskan bahwa ada pisang sanggan, tumpeng besar, jajan pasar, dan tumpeng pancalana. Untuk minuman 5 macam, mulai dari air putih, teh, kopi, e, dan air bunga di gelas. Lalu, jagung bakar, merpati bakar, ingkung, ketela bakar, dan jadah bakar.
“Sekarang yang sudah tidak dipakai yaitu jenewer. Kita tidak pakai lagi karena tergolong narkoba. Ayam puthuk kecil, kembar mayang, nasi liwet dan lauknya,” ucapnya.
Untuk ogoh-ogoh kirab, hanya sebagai pendamping untuk penggembira. “Sepasang genderuwonya sebagai penunggu gunung Gamping. Nyi Poleng berwujud ular yang menjadi simbol patung keraton, bisa berwujud ular atau genderuwo. Untuk jumlah bregodo ada 10. Ada yang dari luar Ambarketawang,” pungkasnya. (jat)
