JOGJA, BERNAS.ID- Festival Marimas Ecobricks menyambangi Yogyakarta setelah sebelumnya pada bulan Maret lalu mengunjungi Semarang. Festival ini secara khusus mengundang guru-guru SD dan SMP di Yogyakarta untuk diajari membuat ecobrick berbahan baku bungkus plastik produk Marimas.
Lantip Waspodo yang akrab dipanggil Mas Oot selaku trainer ecobrick dari Marimas mengatakan tujuan mengajak para guru karena ingin mengedukasi pihak sekolah untuk membantu mengelola bungkus plastik dari Marimas. “Kami ingin mengelola bungkus marimas produk kami dengan mengedukasi sekolah agar juga membantu kami mengelola bungkus-bungkus produk kami,” jelasnya di Aula Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Rabu 31 Juli 2019.
“Mengedukasi murid-murid di sekolah dan masyarakat mengelola plastik,” imbuhnya.
Mas Oot menjelaskan di tahun 2019 ini, Marimas memang ingin menarik bungkus-bungkus produknya agar tidak mencemari lingkungan sekolah. “Kami berpikir di tahun 2019 ini, ingin menarik bungkus-bungkus kami di masyarakat agar tidak mencemari sekolah dan lingkungan sekitar,” ujarnya.
“Oh ternyata gampang untuk mengolah plastik. Bungkus plastik dipotong-potong kecil, lalu dimasukkan ke dalam botol, lalu dipadatkan dengan tongkat kayu. Itulah ecobrick,” imbuhnya.
Dengan program membuat ecobrick ini, Mas Oot mengatakan pihaknya ingin menghindarkan plastik dari lingkungan dan menghindarkan plastik dari pembakaran karena pengeluaran dioxin dan CO2. Ia mengatakan ecobrick yang terkumpul nanti akan dikelola oleh pihaknya, misal membuat kursi atau meja untuk contoh pemanfaatan ecobrick di masyarakat.
Ia juga menceritakan syarat membuat ecobrick, yaitu botol bekas air mineral yang ukuran 600 ml, diisi dengan 90 persen potongan bungkus Marimas dan 10 persen plastik kresek. Syarat berat ecobrick, yaitu 200 gram.
Untuk semakin menggiatkan program ecobrick ini, Mas Oot mengatakan pihak Marimas membuat program 1000 laptop untuk sekolah dengan menukarkan 100 ecobrick untuk 1 laptop. “Untuk pendaftaran program 1000 laptop, sekolah bisa mengisi formulir via online atau offline. Program ini memiliki jangka waktu sampai Desember 2019,” tandasnya. (jat)
