Oleh: Dito Anurogo
Di ruang operasi, ketepatan bukan pilihan. Ia adalah syarat hidup. Tangan dokter bergerak dalam batas milimeter. Cahaya lampu bedah menyapu tubuh pasien seperti matahari yang tak boleh berkedip. Di tempat sekeras itu, karya Nova Eka Diana menemukan rumahnya—bukan sebagai pisau, melainkan sebagai kompas.
Nova bukan ahli bedah. Ia tidak berdiri di sisi meja operasi dengan sarung tangan steril. Tetapi pikirannya selalu berada di sana. Ia hadir sebagai “mata kedua.” Mata yang tidak lelah. Mata yang menghitung, menafsirkan, lalu menuntun. Mata yang dibangun dari kecerdasan buatan dan realitas tertambah. AI dan AR/VR/MR bukan aksesori baginya. Ia menjadikannya perpanjangan empati manusia.
Perjalanan itu berawal dari ruang kelas ilmu komputer. Nova menempuh sarjana di Universitas Indonesia. Ia belajar algoritma, struktur data, logika mesin. Namun sejak awal, ia tahu yang ia cari bukan sekadar mesin yang pintar. Ia ingin mesin yang paham manusia. Komputer, bagi Nova, harus berurusan dengan pengalaman hidup—dengan keterbatasan manusia, dengan cara manusia melihat, ragu, dan mengambil keputusan.
Baca Juga : 8 Cara Menjaga Kesehatan Mata, Penting untuk Kamu Tahu!
Dari kegelisahan itu, ia masuk ke ranah interaksi manusia–komputer dan robotika. Ia berangkat ke Korea Selatan, ke KIST School di University of Science and Technology. Di sana, disiplin riset terasa seperti napas sehari-hari. Setiap eksperimen dituntut rapi. Setiap hasil diminta jujur. Setiap ide diuji bersama tim lintas ilmu. Nova menemui satu pelajaran sederhana tetapi mahal: teknologi tidak hidup jika tidak menyatu dengan pengguna. Pengguna paling “setia” yang ia pilih adalah dokter.
Korea menjadi tempat ia ditempa. Bukan hanya diuji lulus, tetapi diuji tahan. Ia menuntaskan doktor di bidang AI-Robotics. Lulus pada 2025 dengan predikat excellent graduate. Angka akademik itu penting, namun bukan inti kisahnya. Intinya adalah perubahan identitas. Dari peneliti komputasi menjadi perancang masa depan klinis.
Ia memilih masalah yang rumit dan sangat nyata. Ruang operasi berbeda dari laboratorium. Cahaya bisa berubah. Tangan manusia bisa gemetar. Alat bisa bergeser. Sistem navigasi berbasis AR sering gagal bukan karena teori yang buruk, tetapi karena dunia nyata lebih liar dari model.
Nova menolak menyerah pada “ketidakidealan” itu. Ia merancang navigasi bedah AR yang tangguh. Ia ingin headset AR tetap selaras meski cahaya ruang operasi berganti. Ia ingin sistem tetap akurat tanpa pelacak eksternal yang merepotkan. Ia sedang memindahkan kepastian sains ke medan yang paling rawan salah.
Di atas meja risetnya, anatomi manusia dan matematika berjalan berdampingan. Ia mengerjakan optical tracking agar posisi alat bedah selalu “terlihat.” Ia membangun pendekatan marker-based, markerless, dan AI-assisted.
Ia merajut registrasi multi-modal: CT, MRI, dan USG disatukan menjadi peta yang utuh. Ia mengembangkan rekonstruksi 3D yang membuat organ dalam tak lagi sekadar bayangan datar. Ia mengarah pada satu tujuan: operasi yang lebih cerdas, tetapi tetap manusiawi.
Karyanya menyebar ke forum ilmiah internasional. Pada 2025, dua publikasi menegaskan karakter risetnya: teknis, tetapi langsung menyentuh praktik klinik. Pertama, ia membuat metode kalibrasi probe ultrasonik memakai phantom berbentuk bola-bola acak yang terlihat di CT. Kedengarannya sederhana, tetapi efeknya besar.
Ketepatan USG meningkat ketika dipakai dalam prosedur intervensi. Kedua, ia merilis studi tentang navigasi AR yang tetap stabil di ruang operasi nyata. Ia menjaga keselarasan OST-HMD meski kondisi cahaya berubah. Ia membuktikan bahwa AR bukan mainan visual, melainkan alat keselamatan.
Namun Nova tidak hidup di satu lorong ilmu. Ia menoleh ke bidang lain tanpa kehilangan arah. Ia ikut meneliti perbandingan pengukuran kesehatan mental konvensional dan digital. Ia membangun basis data modular pertama tentang gen dan penyakit pada populasi Indonesia.
Ia pernah mengembangkan klasifikasi emosi berbasis machine learning dari sinyal EEG. Di sana terlihat satu hal: ia memahami kesehatan sebagai tubuh sekaligus perasaan. Dan teknologi sebagai alat untuk keduanya.
Di panggung konferensi, ia terus menabrak batas disiplin. Ia mempresentasikan sistem AR-guided core-needle breast biopsy. Ia mengembangkan optimasi deep neural network untuk dataset medis yang timpang, supaya AI tidak bias terhadap kelompok tertentu. Ia bahkan meneliti deteksi plagiarisme dokumen dengan pendekatan komputasi. Seolah ia berkata: ilmu harus presisi, dan etika harus tegas.
Inovasi Nova tidak berhenti pada tulisan. Ia masuk ke wilayah yang lebih sunyi, tetapi menentukan: hak kekayaan intelektual. Ia mematenkan phantom untuk kalibrasi ultrasonik di Korea Selatan. Ia mendaftarkan hak cipta perangkat lunak OTrust—mesin yang menilai dan mengekstrak informasi kesehatan tepercaya dalam bahasa Indonesia.
Ia membuat crawler untuk mengumpulkan dokumen kesehatan nasional secara otomatis. Ia melahirkan aplikasi lain: Galaw, Ruang Sandar, Flu Epidemic Detector, dan beberapa platform kesehatan digital. Nama-nama ini terdengar sederhana. Fungsinya tidak sederhana. Ini adalah upaya menjadikan teknologi global memiliki aksen lokal.
Pendanaan risetnya mencerminkan arah itu. Ia menjadi PI proyek CardioAR dan Social Engagement for Cardio Augmented Reality dengan pendanaan dari Korea Institute of Science and Technology (KIST) School University of Science and Technology, Korea Selatan. Platform AR ini dipakai untuk mempelajari sistem kardiovaskular dengan cara yang lebih intuitif. Sebelumnya, ia memimpin proyek PDUPT OTrust selama tiga tahun.
Di tengah banjir informasi kesehatan dan hoaks, ia membuat “filter kepercayaan.” Ia mengembangkan heuristik untuk menilai kredibilitas dokumen kesehatan berbahasa Indonesia. Ia ingin publik bertemu ilmu yang benar sebelum bertemu ketakutan yang salah. Di jalur lain, ia juga memimpin riset deteksi emosi untuk kesehatan psikis dalam pembelajaran pemrograman. Ia melihat manusia sebagai pusat, bukan sebagai data yang dingin.
Lalu ia pulang. Kepulangan Nova bukan jeda karier. Ia adalah fase baru. Ia bergabung dengan Universitas YARSI sebagai Assistant Professor. Ia dipercaya memimpin Multimedia & Immersive Technology Lab sejak Agustus 2025. Lab itu bukan sekadar ruangan. Ia membangunnya sebagai pelabuhan ide. Tempat mahasiswa, peneliti, dan klinisi bertemu. Tempat teknologi diuji bukan di atas kertas, tetapi di atas kebutuhan nyata.
Perjalanan di YARSI tidak dimulai dari nol. Nova sudah lama menyalakan mesin riset kampus. Ia pernah menjadi Head of Intelligent Computational Competency Group (2013–2017). Ia melanjutkan sebagai Research Manager (2017–2021). Ia memanjat tangga akademik pelan, stabil, dan konsisten. Seperti orang yang tahu tujuan, lalu menolak tergesa.
Baca Juga : Lions Club Yogyakarta Manggala Mataram Menggelar Baksos di TPST Piyungan Bantul
Yang membuat kisah Nova lebih dari daftar prestasi adalah pilihan hidupnya. Ia memilih medan yang sulit dijelaskan dalam satu kalimat dan sulit dikerjakan sendirian. AR, AI, registrasi citra medis, rekonstruksi 3D, robotika bedah. Semua butuh ketelitian matematika. Semua juga butuh empati klinis. Ia harus fasih dalam bahasa algoritma dan bahasa manusia. Ia harus mengerti sensor dan mengerti rasa takut pasien. Dari sinilah keunggulan itu lahir: ia menjembatani dunia yang sering saling asing.
Teknologi, di tangan Nova, tidak datang untuk menggantikan dokter. Ia datang untuk memperkuat dokter. Ia bukan pesaing manusia. Ia adalah mitra manusia. Sains yang ia bangun bukan sekadar kemajuan teknis. Ia adalah bentuk kepedulian yang diubah menjadi sistem.
Kelak, ketika prosedur bedah di Indonesia menjadi lebih aman karena dokter dibantu AR yang stabil; ketika mahasiswa kedokteran memahami jantung lewat visualisasi imersif; ketika masyarakat mendapat informasi kesehatan yang lebih tepercaya; jejak Nova ada di sana. Ia bekerja di belakang layar. Senyap. Tetapi menentukan.
Nova Eka Diana memberi pelajaran yang keras sekaligus lembut. Bahwa teknologi paling bernilai lahir dari ketekunan yang panjang. Bahwa ilmu yang rumit bisa diarahkan untuk tujuan sederhana: menyelamatkan manusia. Bahwa perempuan Indonesia bisa berdiri di pusat riset AI-robotics global, lalu pulang membawa cahaya itu ke rumah sendiri. Bahwa jalan sains tidak harus lurus, asal langkahnya jujur.
Ia menunjukkan satu hal yang sering dilupakan: masa depan kedokteran tidak hanya dibangun di rumah sakit. Masa depan itu juga lahir di laboratorium komputasi, di ruang diskusi lintas ilmu, dan di hati orang yang bersedia melihat penderitaan manusia sebagai alasan untuk terus meneliti.
Nova memilih menjadi mata kedua. Mata itu sedang menuntun banyak tangan, agar lebih presisi, lebih tenang, dan lebih manusiawi. Benarlah. Nova Eka Diana, sosok yang mahir menyulam teknologi, sekaligus menjaga presisi.
[Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, alumnus PhD dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, dokter riset, dosen FKIK Unismuh Makassar, peneliti di Yayasan IMI, trainer-penulis profesional-produktif berlisensi BNSP, reviewer jurnal Internasional-nasional]
