HarianBernas.com ? Kasus pelecehan seksual memang kerap terjadi di Republik Demokratik Kongo (DR Congo).
Namun kasus yang satu ini berbeda, karena kasus kekerasan seksual tidak dialami oleh perempuan, namun oleh pria yang pelakunya juga seorang pria.
BBC, Kamis (3/8/2017) menyebut, seorang korban bernama Stephen Kigoma telah angkat bicara mengenai kejadian yang menimpa dirinya — yang dianggap tabu di negaranya.
Kigoma mengaku telah dilecehkan oleh beberapa pria selama konflik berkepanjangan di negara asalnya, Republik Demokratik Kongo.
Pria itu menggambarkan penderitaannya dalam sebuah wawancara bersama salah seorang wartawan bernama Alice Muthengi. Dari pengakuannya tersebut, Kigoma meminta banyak korban untuk muncul, membuka diri, dan menceritakan segala kejadian buruk yang mereka alami.
“Selama ini saya menyembunyikan kejadian ini. Saya adalah salah satu korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh laki-laki. Sebelumnya saya tak berani untuk membeberkan kasus ini, karena ini tabu,” tutur Kigoma.
“Sebagai seorang pria, saya tak bisa menangis. Para pelaku akan mengatai saya pria pengecut, lemah dan bodoh,” ungkap Kigoma.
Baca juga Imigran di Swedia Dibekuk Usai Memperkosa Ramai-ramai dan Disiarkan di Facebook Live
Kasus kekerasan seksual terhadap Kigoma terjadi ketika sekelompok pria menyerang rumahnya di Kota Beni, Republik Demokratik Kongo bagian timur.
“Mereka membunuh ayah saya. Ada tiga orang pria yang menyetubuhi saya sambil berkata, 'kau adalah seorang pria dan bakal malu jika mengaku telah diperkosa oleh pria,” kata Kigoma.
“Ini adalah senjata mereka untuk membuat saya diam seribu bahasa,” imbuh dia.
Setelah berhasil melarikan diri ke Uganda pada tahun 2011, Kigoma akhirnya mendapat pertolongan medis. Ketika bertemu dengan seorang fisioterapi yang mengobati bagian punggung Kigoma, tiba-tiba sang dokter menyadari adanya tanda-tanda bekas kekerasan seksual.
Dari sana, Kigoma diurus oleh dokter lain yang menangani masalah kekerasan seksual. Ia menjadi satu-satunya korban pria yang ada di bangsal tersebut.
“Saya merasa diremehkan, seperti berdiri di tanah yang bukan milik saya. Saya tak mampu menjelaskannya kepada dokter, bagaimana semua ini bisa terjadi. Saya benar-benar takut,” kata Kigoma.
Hingga akhirnya, Kigoma mendapat perawatan konseling dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat di Kota Kampala. Ternyata ada lima pria yang menjadi korban serupa yang mendapat perawatan konseling tersebut.
Sebuah badan hukum yang mengurus permasalahan para pengungsi telah menyelidiki kasus pelecehan seksual yang menjadikan pria sebagai korban. Pihaknya pun telah merilis data korban dari kekerasan seksual tersebut.
Lebih dari 20 persen pengungsi wanita dan empat persen pengungsi laki-laki yang menjadi korban pelecehan seksual.
Tetapi ada tantangan hukum yang harus dihadapi oleh kaum pria yang menjadi korban kekerasan seksual. Belum ada hukum yang jelas atas perkara semacam ini. Hukum di negara itu menyebut kasus kekerasan seksual masih sebatas sebagai sebuah penetrasi yang melibatkan vagina dan penis.
Apabila ada seorang pria korban kekerasan seksual yang maju ke depan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum, hanya akan dianggap sebagai korban serangan seksual belaka.
Baca juga Korban Perkosaan Sebaiknya Menikahi Pemerkosanya, Kata Politikus Malaysia Ini
