HarianBernas.com – Selain sebagai salah satu pendiri lembaga pendidikan formal dengan brand Sekolah Primagama dan Sekolah Teladan dengan konsep full day school dari jenjang KB-TK-SD, Cahyo Binarto saat ini menekuni banyak pekerjaan dan kegiatan.
“Aktif sebagai penggiat pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Koperasi. Sebagai Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB ), Ketua Asosiasi KKMB DIY, dan salah satu Ketua Satgas Pemberdayaan KKMB DIY. Lalu, aktif sebagai Ketua AMA (Asosiasi Manajemen Indonesia) BPC-DIY bidang Pendidikan dan Pengembangan Profesional Anggota. Sebagai salah satu Pengurus MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) bidang Pengembangan Sektor Riil,” urainya tentang berbagai aktifitasnya kepada Harian Bernas (10/9).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Narasumber untuk seminar dan training ini menceritakan tentang titik baliknya menekuni pekerjaan di bidang pendidikan. “Diawali keingginan kedua orang tua saya sebagai seorang guru maka ingin satu anaknya menjadi seorang guru profesi yang mulia dan prestisius di kampung saya, tapi melihat kehidupan seorang guru saat itu yang penuh keterbatasan saya selalu menolak dengan halus seolah-olah sudah mendaftar dan ikut tes, padahal sejatinya tidak. Misal diminta masuk SPG, saya pilih SMA. Selepas SMA diminta masuk IKIP saat itu, saya pilih AKABRI dan STAN walau keduanya tidak diterima,” ungkapnya tentang keengganannya menjadi guru dan memilih jalan hidupnya sendiri.
Di tahun 1984, Cahyo Binarto akhirnya pergi ke kota Jogja untuk ikut bimbingan belajar (bimbel) dengan harapan ingin mengulang tes masuk perguruan tinggi tahun berikutnya agar siap lebih baik. “Pas jalan-jalan saya melihat salah satu kampus yang dari namanya saya merasa tertarik untuk bertanya lebih lanjut. Saat itu, program Bsc setingkat sarjana muda bidang Manajemen Perusahaan di kawasan Langensari dan akhirnya masuk kuliah dan tidak jadi ikut bimbel karena uang yang mestinya untuk biaya bimbel saya bayarkan untuk masuk kuliah,” ucap ceritanya memilih sendiri jalan hidupnya lagi sesuai dengan keputusannya.
Selepas kuliah sambil melanjutkan S1, ia bekerja di salah satu asuransi dan dealer motor untuk program kredit profesi guru. ”Tahun 1990, saya diterima sebagai salah satu pimpinan cabang di bimbel terbesar saat itu hingga tahun 2012 dengan posisi terakhir sebagai salah satu direktur dengan jumlah kantor cabang lebih dari 700 kantor cabang. Apa makna di balik itu semua yang akhirnya menjadi titik balik saya untuk menekuni dunia pendidikan, termasuk kepada pelaku usaha UMKM dan Koperasi melalui kegiatan training dan konsultasi bisnis. Apapun cita-cita kita ternyata doa dan harapan orangtua mempunyai kontribusi yang luar biasa dalam hidup saya dan saya tidak mampu menolaknya walaupun punya cita-cita dan harapan lain, yaitu bukan menjadi guru seperti yang diinginkan kedua orang tua saya, tapi akhirnya pilihan hidup saya, yaitu bersama guru terus mengembangkan pendidikan untuk generasi indonesia yang lebih baik,” bebernya panjang.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Pria berusia lima puluh tahun ini pun mengungkapkan permasalahan yang paling sering dihadapinya di bidang pekerjaannya dan cara menyikapinya. ”Sebagai orang yang bergerak di bidang jasa seringkali menemui adanya gap antara konsep yang dipikirkan dengan realita di lapangan karena usaha jasa apapun kuncinya adalah berikan layanan terbaik ‘zero komplain’ baik dalam proses ataupun kualitas outputnya sehingga harus mampu bekerja dengan tim yang tidak hanya memiliki knowledge dan skill yang baik saja, tetapi harus memiliki etika yang baik, siap bekerja dengan hati, kerja keras, cerdas, dan ikhlas. Itulah salah satu kunci solusi untuk menyikapi setiap tantangan yang ada. Tentunya diiringi dengan doa sesuai keyakinan kita. Hasil tawakal saja sehingga apapun hasilnya bisa menyikapi dengan wajar-wajar saja. Ora kagetan, ora nggumunan, kata pepatah jawa,” paparnya.
Ketika disinggung tentang tantangan di dunia pendidikan, pria kelahiran Lampung ini menjawab bahwa di setiap era, dengan adanya perubahan kebijakan pemerintah melalui Kemendiknas mempunyai tujuan yang baik. “Pertanyaannya, kita sebagai penyelenggara sekolah sebagai insan pendidikan mampu adaptif atau tidak, contoh adanya perubahan kurikulum yang sering kita dengar. Mestinya kita harus mampu berinovasi dan inisiatif untuk memberi masukan kepada Pemerintah untuk setidaknya mengimplementasikanya dengan baik sesuai tujuan sistem pendidikan yang terus lebih baik dari waktu ke waktu. Tantanganya, mampukah kita menggerakan dan menginisiasi para guru untuk terus berpikir positif dan inovatif sehingga terhindar dari sikap saling menyalahkan,” jelasnya.
Tantangan berikutnya bagi Cahyo Binarto adalah kecenderungan para orang tua untuk suksesnya anak- anaknya diserahkan sepenuhnya pada sekolah sebagai tempat pendidikan. “Kita ketahui bersama, sukses pendidikan telah disampaikan oleh tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro dengan Tri Pusat Pendidikan. Pertama, di lingkungan keluarga. Kedua, di sekolah sehingga sekolah sejatinya mitra orang tua siswa untuk pendidikan masa depan anak-anak kita untuk menjadi generasi gemilang. Ketiga di lingkungan masyarakat. Di lingkungan masyarakat yang baik, anak kita akan menjadi baik. Sebaliknya, kegiatan komunikasi sekolah dengan walisiswa, baik non formal maupun formal seperti acara parenting sangat penting dan menjadi kerjasama sekolah dan orang tua yang baik dalam pendidikan,” tuturnya menerangkan.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Sarjana Manajemen ini pun menerangkan tentang alasan menekuni bidang pendidikan formal dan kegiatan training/ konsultasi bisnis bagi UMKM termasuk koperasi sampai sat ini. “Saya anggap ini sangat penting. Orang akan ditinggikan derajatnya karena ilmunya. Orang bisa menjemput dan menjaga hartanya dengan baik juga karena ilmunya. Hidup akan terarah karena berilmu maka atas pengalaman saya yang lebih dari 25 tahun di dunia pendidikan sudah saatnya untuk berbagi agar bisa memberi warna dalam kehidupan masyarakat, bangsa yang lebih baik. Kedua, saya merasa pilihan di dunia pendidikan itu adalah profesi yang mulia. Saya merasa ada dua dimensi yang saya peroleh, yaitu koin dan point. Koin, nyatanya lewat pendidikan saya bisa hidup lebih dari cukup dari yang saya bayangkan saat saya pergi meninggalkan kampung halaman. Kaya miskin relatif bergantung masing-masing orang. Point, saya merasa banyak saudara, baik itu mitra usaha, pelaku umkm, walisiswa, dan lain-lain. Kelak siswa saat sudah menjadi dewasa bisa sebagai penebar ilmu yang bermanfaat. Mudah-mudahan banyak pahala. Semoga!” ungkapnya.
Pemilik hobi Car Pakcker ini pun membagikan inspirasinya kepada yang membaca kisahnya ini. “Untuk memulai sesuatu yang bermanfaat tidak harus dimulai dari hal yang besar, tapi apa yang bisa dilakukan, dimulai dari sekarang dan dari diri sendiri, misal dengan semakin banyak berbagi ilmu dalam kesempatan apapun, baik melalui usaha jasa pendidikan yang saya kelola, melalui organisasi sosial kemasyarakatan seperti asosiasi, organisasi kemasyarakatan termasuk pelaku usaha UMKM, dan lain-lain, tidak pernah akan berkurang ilmu yang kita miliki, tapi sebaliknya akan terus bertambah seiring bertumbuhnya posisi dan pencapaian hidup Anda,” ucapnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Saat ini, Ketua AMA (Asosiasi Manajemen Indonesia) BPC-DIY bidang pendidikan dan pengembangan profesional Anggota sedang mengerjakan dan mengembangkan pengembangan sekolah yang berbasis pada 3 kecakapan hidup minimal yang harus dimiliki generasi yang akan datang agar mampu bersaing dalam kehidupan nyata pada era/zamanya. ”Yaitu, generasi yang memiliki knowlege dan kecakapan hidup yang kompetitif serta etika/ religius sebagai dasar dalam berpikir dan bertindak apapun profesinya dengan sistem full day school. Bagian dari membangun karakter bangsa sejak usia dini. Kedua, menyusun sistem pelatihan dan pendampingan pelaku usaha, khususnya pelaku UMKM secara komprehensif agar mereka menjadi pelaku usaha yang kuat, mandiri dengan usaha, untung, menabung. Semakin banyak wirausaha mandiri akan melahirkan kedaulatan ekonomi. Dengan semakin banyak wirausaha yang kuat, kemakmuran yang sesungguhnya akan mudah tercapai,” terangnya terkait kegiatan yang sedang dikerjakan saat ini.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
