HarianBernas.com – Arief Prasetyo saat ini menekuni pekerjaan sebagai General Manager (GM) Omkara Resort. Ia bertanggungjawab penuh di resort seluas 6000 meter persegi.
?Omkara itu berarti kedamaian dari bahasa Sanskerta. Jadi, Omkara ini konsepnya adalah back to nature. Lebih mementingkan bahwa lahan tanahnya lebih banyak digunakan untuk alamnya daripada bangunannnya. Di sini, ada bangunan yang mengalah pada pohon, misal pohon Kelapa bisa ada di tengah-tengah teras. Di kelilingi suara air yang menyejukkan. Lebih tepatnya untuk retreat atau menyepi karena tidak dilengkapi dengan telepon biasa,? ungkapnya ke HarianBernas.com, Selasa (27/12).
Menurut Arief, Omkara Resort ini lebih menawarkan ke personal service. ?Selain itu, Omkara Resort ini bukan menjadi destinasi (tujuan) seperti hotel-hotel yang lain, tapi lebih ke pilihan atau orang yang memiliki selera, yang ingin kembali ke alam karena ingin menyepi dari kebisingan kota atau merasakan kesejukan alam, suara air,? terangnya.
Ia pun membagikan pengalaman yang menjadi titik baliknya sehingga menekuni pekerjaan di bidang perhotelan. ?Dulu pernah kuliah di manajemen, tapi merasa kurang pas, lalu masuk kuliah perhotelan padahal saat itu, kuliah di perhotelan belum tren. Namun, ketika itu, harus masuk ke sekolah perhotelan dan langsung training di FnB (Food and Beverages) di restoran atau bar. Di situ, saya menemukan sesuatu yang lain, yaitu melayani tamu itu ada sesuatu yang berbeda buat saya. Terasa menyenangkan. Kalau melayani tamu asing, mereka ada apresiasi. Dengan apresiasi ini saja, cukup menyenangkan dan terbayar buat saya meski hanya ucapan terima kasih dan tamu itu lebih sering memanggil saya dengan nama. Apresiasi itu yang membuat benar-benar saya respect, lalu berpikir kenapa saya tidak fokus menekuni ini saja,? paparnya.
Setelah berpindah-pindah pekerjaan di berbagai hotel dan kafe khususnya di bidang hospitality, ia memutuskan untuk bekerja di kapal karena kalau belum bekerja di kapal, belum menjadi orang hotel. Setelah bekerja selama tiga tahun di kapal pesiar, di tahun 1997, Arief kembali ke Indonesia. Ia pun langsung kembali bekerja di beberapa hotel lagi. Tahun 2002, kerja di Bali karena Dollar-nya tinggi dan banyak turis. Di hotel tempatnya bekerja itu (international chain hotel), ia ditawari bosnya untuk membuka hotel baru di Timur Tengah, Qatar. ?Saya ke Timur Tengah dengan single contract sehingga enam bulan sekali boleh pulang. Kemudian, setelah satu tahun pindah Bahrain, kembali lagi ke Qatar, dan tahun terakhir di Dubai di hotel yang sama sampai tahun 2005,? bebernya.
Pertengahan tahun 2005, karena Ibunya sakit, Arief pulang ke Yogyakarta dan bekerja di sebuah hotel. Karena rasa bosan, ia pun keluar dari hotel tersebut setelah bekerja selama 4 tahun. Setelah itu, ia pun banyak menerima tawaran panggilan bekerja di hotel, tapi tidak diterima karena membantu salah satu teman di Jakarta. Karena tidak betah di Jakarta, ia kembali ke Jogja. Dengan beberapa teman lama, ia membuka manajemen kecil-kecilan dengan membuka hotel-hotel kecil di Jogja. Sampai akhirnya, ia secara tak sengaja ketemu dengan owner Omkara Resort, Pak David dan ditawari untuk mengurus propertinya.?Saya kaget karena saat melihat properti Omkara Resort, di Jogja ada properti seperti di Ubud Bali, yang benar-benar alam,? ucapnya heran karena sebagai orang Jogja asli.
Alumni Ampta ini pun membagikan pengalaman uniknya di pekerjaan sebagai GM saat ini. Ketika malam-malam, pernah ada tamu yang meneleponnya untuk makan, tapi ingin memasak sendiri. Ia pun menyikapi tamu ini dengan sangat baik. ?Untungnya, bahan-bahannya ada untuk membuat steak ikan yang ingin dimasak tamu itu sendiri. Tamu itu akhirnya masak sendiri,?tuturnya.
Kejadian unik lainnya di Omkara Resort, ia menceritakan pernah ada tamu satu keluarga dari Jerman yang sudah siap akan pergi dari resort, tapi orangtuanya kebingungan mencari salah satu anaknya yang tidak ditemukan di area resort, padahal sudah dikelilingi semua tempat. ?Rupanya, anak yang dicari itu memaksa chef resort untuk memancing di ujung sungai selatan resort, yang terpaksa harus keluar area resort. Ketika menemukan anak itu, orangtuanya justru tidak marah, tapi ketawa karena kalau memang anaknya itu suka mancing, ya sudah tidak usah pergi lagi ke mana-ke mana, di sini saja,? bebernya bercerita.
Pria kelahiran Jogja ini memaparkan permasalahan yang sering dihadapi di pekerjaan saat ini. ?Pertama, jumlah SDM terbatas. Kedua, mencari tamu yang mau stay di Omkara itu tidak mudah, terutama domestik karena resort ini bukan tujuan, tapi pilihan. Ketiga, tidak murah. Begitu tidak murah, ada resiko yang harus kita mengembalikan apa yang sudah dia bayarkan. Contohnya, kamar harus rapi, bersih, dan tidak ada debu. Air lancar. Televisi jernih. Kendalanya, attention to detail tidak dilakukan oleh semua tim. Saya mencoba tiada henti-hentinya untuk mengingatkan tentang hal itu. Menyikapinya, saya harus turun sendiri, all do it by my self, dan memberikan contoh sendiri,? terangnya.
Ia pun menceritakan tantangan ke depan di bidang pekerjaan saat ini. ?Akan ada banyak atau bertambah tempat-tempat seperti ini. Pasti akan menjadi kompetitor. Yang sampaikan ke staf-staf, itu ancaman buat kita. Kalau kalian tidak bisa memberikan service, dalam waktu yang singkat, kalian bisa tidak bekerja karena tamu akan berpindah ke tempat lain,? tuturnya.
Alasan tentang terus menekuni bidang pekerjaan hospitality, ia menjawab bahwa membuat orang bahagia itu tidak pernah salah. ?Saya selalu ingin membuat orang yang ketemu dengan saya apalagi yang tinggal di properti yang saya kelola itu bahagia. Prinsipnya, bahagia itu menyehatkan. Sehat itu membahagiakan. Passion memberikan pelayanan kepada orang dan menyukai itu,? terangnya.
Habit yang dibangun selama ini untuk mendukung pekerjaannya saat ini adalah showing by doing. ?Saya tidak suka hanya memerintah saja. Saya tidak mau marah yang tidak ada solusinya. Jadi, karena punya background FnB, pelayanan makanan dan minuman, harus benar-benar menjadi seorang inovator, punya inisiatif, dan harus cerdas karena tamu tanya A, kamu bisa menjawab B, C, D, F, G. Kalau ada tamu ingin bycycle tour, saya sediakan sepeda selesai kan, tapi apa sampai di situ saja? Apa tamu itu tahu rutenya? Kalau keliling di kampung, apakah tamu itu tahu salak apa? Saya sering turun sendiri untuk memandu tamu,? katanya bercerita.
Penyuka hobi bersepeda ini membagikan inspirasinya. ?From zero to hero. Kenapa saya dulu ingin bekerja di kapal karena sadar berasal dari keluarga yang tidak punya, tapi ingin melihat Amerika, ingin melihat Eiffel, ingin melihat menara kembar. Saya kadang-kadang berpesan kepada teman-teman yang muda dan belum kawin, kalau ingin bekerja kapal, silakan saja, go a head. Memang di sana menjadi pelayan dan setahun tidak libur, tapi saat pulang, nggaya punya banyak duit,? ucapnya berbagi pandangan.
Saran untuk orang yang ingin sukses di pekerjaan perhotelan, ia menjelaskan bahwa harus sabar karena kalau dikomplain tamu, lalu menjadi down akan selesai, padahal dikomplain tamu adalah sarapan. Komplain itu terima, selesaikan, dan menjadi pecut maju agar tidak melakukan kesalahan lagi. Harus sabar. Selain itu, pantang menyerah,? tukasnya.
Bagi Arief, sosok owner harus dihormati karena kita bekerja pada beliau. ?Kalau bisa membuat membuat tamu bahagia, tentunya harus bisa membuat owner bahagia. Sosok staf, tanpa mereka, kita tidak bisa menjadi seperti ini. Kita tidak bisa bekerja sendiri. Saya lebih nyaman menyebutnya rekan kerja. Sosok tamu, tamu bukan raja, tapi rekan bisnis yang harus bisa disenangkan dan menyenangkan,? jelasnya.
Project terdekatnya, yaitu ingin istirahat. Harus ada batasnya. ?Ingin punya usaha sendiri, tapi saya belum menemukan, misal mau wujudnya itu punya tempat yang sama seperti yang ditekuni saat ini, warung, atau guest house kecil,? tuturnya.
Impian ke depan penyuka travelling ini adalah life with peace. ?Saya ingin hidup cukup ketika saya sudah tidak mampu bekerja lagi. Saya tidak ingin merepotkan anak-anak saya,?pungkasnya.
