HarianBernas.com – Purwo Wasito kini bekerja sebagai General Manager Quin?s Colombo Hotel. Sejak tahun 1992, ia mulai menekuni karir di dunia perhotelan setelah lulus dari AMPTA Yogyakarta. Selama 24 tahun bekerja di hotel, ia meyakini bahwa bekerja itu harus senang, khususnya di hotel. ?Working in a hotel, should be fun.
Kerja di hotel harus senang karena kita berhadapan dengan orang. Bila wajah kita sudah senang, orang (tamu) akan senang. Ketawa dengan tamu. Ketawa dengan staf agar suasananya menyenangkan sehingga menghadapi pekerjaan dengan rileks,? ungkapnya ke Harian Bernas, Rabu (15/12).
Titik balik memilih bidang pekerjaan perhotelan karena suatu ketika, pernah mengantar teman mendaftar di Atma Jaya Yogyakarta, kemudian di depan kampus itu, melihat spanduk AMPTA, lalu iseng-iseng mencoba mendaftar. ?Saat itu, orangtua juga mempunyai kesulitan pendanaan karena bersamaan dengan adik kedua saya yang juga masuk kuliah sehingga memilih yang D3 saja agar cepat lulus dan bisa cepat kerja, lalu mencari pekerjaan pun sesuai dengan bidang kuliah perhotelan,?ucapnya menjelaskan.
Anak pertama dari lima bersaudara ini menceritakan kisah unik dalam perjalanan karirnya. Dari seorang public area attendant, ia naik menjadi room boy, lalu menjadi supervisor, kemudian pindah ke Jakarta dengan jabatan manajer dengan umur yang masih muda sekitar 22-23 tahun saat itu. Prosesnya ini hanya terjadi dalam waktu yang singkat, tidak sampai dua tahun. Namun, kenyataan berkata lain, ia harus memulai dari bawah lagi di hotel lain untuk naik lagi karirnya. Peristiwa ini tidak membuatnya patah harapan, tapi membuatnya menyadari bahwa dirinya masih kurang dalam pengalaman.
Penyuka hobi badminton ini meyakini bahwa dirinya membutuhkan bekal yang cukup, pengalaman yang cukup untuk mencapai menjalankan tanggung jawab atau tugas kita. ?Tidak serta merta dapat jabatan itu terus enak karena ada tanggung jawab yang luar biasa. Akhirnya, terdapat banyak hal-hal yang terjadi di luar dugaan kita, bahkan teori di kuliah pun tidak bisa dipakai, misal dalam operasional sehari-hari, ada kebutuhan-kebutuhan yang harus menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Teori sangat penting, tapi akan lebih baik didukung dengan pengalaman itu sendiri,? tuturnya terkait pengalaman hidupnya.
Sejak saat itu, ia mulai mempelajari segala sesuatunya dengan lebih detil. ?Prinsipnya, membekali diri sendiri dengan keterampilan untuk menjalankan tugas. Mengumpulkan materi-materi, pengalaman-pengalaman dari posisi bawah ketika itu dan orang lain, lalu mengamati pekerjaan teman di bagian lain, bahkan mengumpulkan masalah. Kita sebetulnya dituntut sebagai problem solver, bukan trouble maker. Kalau ada masalah seperti ini, orang-orang menyelesaikannya masalah itu bagaimana sih,? terangnya.
Pria kelahiran Salatiga ini pun membagikan cerita uniknya. ?Karena di hotel bidang jasa, ketemunya bukan barang, tapi ketemu dengan berbagai karakter manusia. Pengalaman uniknyas, banyak orang yang belum punya pengalaman tinggal di hotel, misal masuk ke lift, tamu tidak memencet tombol, hanya berdiri saja di depan pintu lift karena menunggu pintu lift itu terbuka sendiri. Kita harus yang membantu memencet tombol. Di dalam lift, pernah ada tamu yang naik dan turun lift saja, ikut orang. Tamu itu tidak memencet tombol angka ingin ke lantai berapa. Kita tanya, bapak mau ke lantai berapa? Kita membantu memencetkan tombol angka lantai,? katanya bercerita.
Tentang alasan mengapa menekuni bidang sampai saat ini, ia menganggap bahwa hotel sebagai ladang sawahnya sampai saat ini. ?Dalam artian, penghidupan saya berasal dari pekerjaan di hotel ini. Saya juga menemukan passion dan ada nikmatnya sendiri, yaitu tambah networking, persahabatan, dan ada tamu yang menjadi sahabat kita,? jelasnya.
Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi, ia menjawab bahwa bisnis hotel itu bisnis yang sensitif karena terpengaruh dengan ekonomi, sosial, politik, dan budaya. ?Misal ekonomi, beberapa kementerian dipotong anggarannya untuk meeting di hotel. Hotel yang punya ruang meeting pasti terpengaruh karena menargetkan kementerian dan dinas Pemerintah. Menyikapi, kita harus mengganti segmen itu, misal mengganti dengan lebih banyak ke corporate. Sebetulnya, Jogja itu menjadi tujuan utama wisata karena banyak modal/potensi yang luar biasa, misal gunung ada, candi ada, laut ada, museum ada, dan sawah masih luas,? paparnya.
Untuk tantangan ke depan, ia mengakui tidak terlalu khawatir karena mempunyai prinsip bahwa optimis itu perlu, misal menyikapi kebijakan Pemerintah tentang target 20 juta wisatawan di tahun 2019-2020 dan kebijakan pengurangan anggaran kegiatan di hotel. ?Saya optimis orang-orang masih mengadakan perjalanan seperti yang orang bisnis masih melakukan perjalanan dan yang sekolah masih melakukan tour. Masih ada potensi bisnis di hotel. Cuma harus ada strategi khusus agar memilih hotel kita. Target market kita, lebih menargetkan kepada netizen, eksekutif muda, atau youngster. Desain-desain sudah mulai menjadi lebih trendy. Kamar kita ubah. Sekarang, banyak hotel yang warna-warni. Kita menyebutnya tematik,? bebernya.
Ketika ditanya bidang yang ditekuni ini apakah penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat, ia menjawab bahwa bisnis hotel sebetulnya mengakomodasi kebutuhan dari tamu ketika melakukan perjalanan sehingga tetap ada peranannya, ke Jogja itu mau dinas, bisnis, keluarga, wisata atau lain-lain. Di samping itu, bisnis hotel mendukung atau menjadi satu elemen penting dari pariwisata daerah. ?Jogja, Kota Wisata, bagaimana kalau tidak ada hotel,? imbuhnya.
Kebiasaan yang dibangun untuk mendukung pekerjaannya, ia sampai kini masih selalu merasa bodoh sehingga haus untuk terus belajar, misal ada hal yang baru, meskipun dari anak buah, tetap harus menjadi sumber wawasan. ?Di hotel, setiap hari, persoalan begitu dinamis. Hal baru itu pasti muncul. Selama 24 tahun bekerja di hotel, selalu ada hal-hal baru sehingga harus menyiapkan antisipasi, yaitu harus membekali diri. Teknologi digital marketing (online) kencang sekali sehingga hotel-hotel harus menyesuaikan diri,? jelasnya.
Suami dari Ike Setyawati ini membagikan inspirasinya. ?Siapapun kita adalah pemimpin, seminimal mungkin adalah pemimpin bagi diri sendiri. Itu semua karena berkah dari Yang di Atas. Semua kemampuan dan kepintaran, seratus persen berasal dari yang di Atas. Apapun itu jabatannya, ia adalah pemimpin dan bisa di situ karena dari Yang di Atas. Lalu, dari situ muncul rasa bersyukur. Tidak boleh pelit bagi ilmu sehingga kalau ada buah tanya, dikasih tahu (sharing) sehingga ada kontribusi memberikan sesuatu,? tukasnya.
Pengagum (alm) Karl Waelti, CEO Core Hospitality Indonesia ini memberikan saran bagi yang ingin meraih kesuksesan di bidang perhotelan. ?Harus haus belajar, ada kecintaan, dan ada passion di bidang pekerjaan. Kalau ada masalah, harus dihadapi. Jangan menghindar karena kalau menghindar, hukum alam itu bekerja. Ketika kita menghadapi masalah, entah berhasil atau tidak, minimal kita pernah menghadapi satu porsi masalah itu dan tinggal menyelesaikan porsi yang lainnya. Di kehidupan, kita akan menghadapi tingkat ujian kehidupan sehingga naik kelas,? ucapnya.
Rencana atau project terdekatnya, ingin mengembangkan hotel Quin?s Colombo Hotel. ?Membangun balroom dan skylounge di atas. Karena berada di Kalasan, saya juga harus menyertakan Kalasan sebagai nama atau tempat agar dikenal banyak orang makanya di nama hotel sering mencantumkan nama Kalasan, misal Hotel Quin Colombo Kalasan,? jelasnya.
Impian terbesar ke depan, ia ingin punya hotel. ?Saya belajar dari banyak owner hotel yang tidak berlatar hotel, tapi bisa memiliki hotel. Namun, kenapa kita yang setiap hari bergumul dengan hotel, tidak bisa punya hotel,? pungkasnya.
