HarianBernas.com – Bagi Dr. Toni Yoyo, ST, MM, MT, (CPS, CG, C.Ht), pikiran kita sungguh luar biasa. Apa yang mampu kita pikirkan sesungguhnya mampu kita realisasikan. Pikiran yang lemah (can?t do = tidak mampu melakukan) akan membuat kita lemah dan tidak bisa mencapai apa pun.
Namun, pikiran yang kuat (can do = mampu melakukan) didukung dengan semangat dan upaya maksimal akan memungkinkan yang bahkan kelihatan tidak mungkin sekali pun bisa kita lakukan.?Jika kita berpikir bisa, kita pasti bisa. Jika orang lain bisa, kita pasti bisa. Jika orang lain tidak bisa, kita mungkin bisa jika mau belajar dan berusaha,? jelasnya dengan yakin ke Harian Bernas.
Dalam perjalanan hidupnya, Sarjana Teknologi Pangan ini membuktikan keyakinannya bahwa pikiran yang kuat (can do = mampu melakukan) akan memungkinkan yang bahkan kelihatan tidak mungkin dilakukan. ?Saat anak pertama saya lahir dan membutuhkan banyak perhatian, pekerjaan saya juga sedang menanjak dan butuh banyak perhatian, saya memutuskan untuk mengambil program S2 akhir pekan di bidang Manajemen Keuangan.
Setelah dua tahun lulus S2, atas persetujuan istri dan anak, saya mengambil kembali program S2 reguler (kuliah malam selama 4 hari dalam seminggu) di bidang Manajemen Teknik Industri. Di tahun 2010, saya mengambil program S3 Manajemen Strategik. Periode menyelesaikan studi S3 ini adalah yang terberat dalam kehidupan saya karena tidak hanya beban kuliah yang luar biasa besar, tapi tanggung jawab keluarga dengan 3 anak dan tanggung jawab di perusahaan besar dengan posisi cukup tinggi benar-benar memberikan tantangan yang luar biasa besar bagi saya untuk menyeimbangkan ketiganya supaya segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik,? urainya tentang usaha kerasnya menempuh setiap tahap pendidikan.
Doktor Manajemen Strategik ini pun tak memungkiri adanya banyak pengorbanan yang tidak hanya dari dirinya, tetapi juga dari istri dan anak-anak saya, serta orang-orang terkait yang terkena konsekuensi dari keputusan untuk kuliah S3 ini. Untuk itu, ia tak lupa peran dan berkat keluarga, serta banyak orang-orang baik di sekelilingnya.
Almarhum dan Almarhumah orangtua sangat berperan dalam mendukung prestasi sekolahnya sampai dengan S1. ?Sampai saat ini, saya sudah meraih beberapa sertifikasi profesi sehingga berhak menyandang gelar Certified Public Speaker (CPS), Certified Graphologist / Handwriting Analyst (CG), dan Certified Hypnotherapist (C.Ht),? bebernya.
Pemilik gelar Magister Manajemen bidang keuangan ini pun mengungkapkan pengalaman unik, khusus sehingga menjadi titik baliknya ketika berproses sampai menjadi seperti sekarang ini. ?Saya berasal dari sebuah keluarga di Pulau Bangka (sekarang Provinsi Bangka Belitung) dengan kondisi ekonomi pas-pas an dan dengan pendidikan orang tua dan saudara-saudara kandung yang terbatas.
Kami berasal dari suku dan agama minoritas. Lingkungan dan latar belakang saya selalu mengingatkan bahwa tidak usah berpikir tinggi-tinggi terutama dalam hal pendidikan dan pencapaian dalam hidup. Pemikiran yang membatasi ini terus diulang ke dalam diri saya oleh keluarga dan lingkungan.
Beruntung dari sejak kecil saya suka membaca terutama buku-buku di perpustakaan sekolah sehingga mengetahui bahwa banyak orang besar di dunia yang awalnya ?bukan siapa-siapa? namun akhirnya bisa menjadi ?siapa-siapa?. Artinya latar belakang seseorang bukanlah harga mati untuk kehidupan dia ke depannya.
Setiap orang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kehidupannya masing-masing, ingin menjadi apa dan siapa dia dalam kehidupannya,? ungkapnya untuk terus optimis menyongsong masa depan.
Penyuka cerita silat (cersil) karangan Kho Ping Hoo ini pun menjelaskan tentang alasan menekuni bidang yang digelutinya sampai sekarang ini. ?Sebagai upaya untuk bisa menerapkan dan membagikan akumulasi pengalaman kerja professional, akumulasi pengetahuan akademik, dan akumulasi keterampilan yang saya miliki untuk kebermanfaatan banyak orang lain. Dengan melakukan berbagai hal tersebut, sekaligus memompa diri saya untuk terus berupaya meningkatkan diri dan memotivasi diri untuk mempraktekkan apa yang sudah diketahui dan dimiliki,? jelasnya.
Dalam menjalani karirnya yang sangat beragam seperti sebagai entrepreneur, konsultan, advisor, coach, public speaker, trainer, dosen, penulis artikel dan buku, grafologis, dan hipnoterapis, Toni Yoyo memaparkan tantangan yang sering dihadapinya dan bagaimana cara menyikapinya. ?Bagaimana membagi sumber daya diri yang terbatas (terutama waktu, pikiran, dan tenaga) sehingga semua peran kehidupan dan berbagai aktivitas yang dijalani bisa dilakukan dengan baik, lancar, dan berkualitas terbaik. Saya menyikapinya dengan terus meningkatkan pengetahuan manajemen diri dan mempraktekkannya untuk senantiasa menjadi pribadi yang lebih efektif dan efisien dari waktu ke waktu,? paparnya.
Ia pun membangun habitnya secara khusus untuk mendukung beragam karirnya yang dibangun selama ini. ?Persisten, teratur, dan konsisten dalam melakukan hal-hal yang baik, positif, pantas, dan bermanfaat. Lalu lebih sering bersyukur dengan lebih sering melihat ke bawah (orang-orang yang lebih menderita dan kurang beruntung), lebih sering termotivasi dengan lebih sering melihat ke atas (orang-orang yang lebih tinggi, baik, dan hebat), dan lebih sering berterima kasih dengan lebih sering melihat ke sekeliling (tidak hanya ke orang-orang yang berada di atas mau pun setara tetapi juga ke orang-orang yang berada di bawah),? tuturnya tentang habitnya.
Ayah dari tiga anak ini pun membagikan inspirasinya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Tidak peduli dari mana kita memulai dalam kehidupan ini. Yang terpenting adalah di mana kita akan mengakhirinya. Kita tidak bisa menentukan permulaan hidup kita (orang tua, keluarga, lingkungan, dan lain-lain), tetapi kita sangat bisa menentukan akhir hidup kita dengan cara mengisi kehidupan ini sesuai dengan target yang diinginkan diraih di akhir kehidupan. Ingatlah bahwa yang menjadi persoalan bukanlah apa yang pernah terjadi pada diri kita, melainkan bagaimana kita menangani hidup kita selanjutnya tanpa terbelenggu oleh hal-hal buruk yang pernah terjadi. Inilah yang akan membuat perbedaan dalam kehidupan kita,? bebernya.
Ketika disinggung tentang apakah hobinya memiliki pengaruh kepada kesuksesan yang dicapai saat ini, Toni menjawab bahwa hobinya membaca buku dan materi-materi bacaan lainnya yang bagus, lalu mengambil minimal 1 poin yang bagus dari setiap bacaan. Poin-poin yang diambil ini harus berbeda dari poin-poin yang sudah ada dari bacaan-bacaan sebelumnya yang sudah dilahap. Selanjutnya, mencoba mempraktekkan semaksimal mungkin semua poin-poin tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal inilah yang menjadi salah satu penyumbang utama terhadap berbagai pencapaian saya selama ini,? ucapnya.
Toni Yoyo pun menuturkan tentang impian terbesarnya untuk ke depan. ?Agar lebih banyak lagi orang-orang menjadi baik dan positif. Semuanya dimulai dari diri masing-masing. Mari kita sibuk mengurusi diri kita sendiri untuk lebih banyak tahu dan bisa membedakan hal-hal yang positif-negatif, baik-tidak baik, pantas-tidak pantas, bermanfaat-tidak bermanfaat. Lalu, sebanyak mungkin melakukan hal-hal yang positif, baik, pantas, dan bermanfaat, serta semaksimal mungkin mencegah diri dari hal-hal yang negatif, tidak baik, tidak pantas, dan tidak bermanfaat sepanjang kehidupan ini. Jika lebih banyak pribadi yang menjadi lebih baik maka lebih mudah terbentuk keluarga-keluarga yang baik. Selanjutnya, bisa terbentuk masyarakat-masyarakat yang baik, yang mendorong kepada terbentuknya negara-negara yang baik, dan berujung kepada dunia yang baik,? tuturnya.
