YOGYAKARTA, HarianBernas.com– Kelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kembangkan stetoskop elektronik Medical Electronic Stetoskop (Mediskop) untuk bisa merekam suara degup jantung dan suara nafas pasien di paru-paru, Senin(13/6).
“Medical Electronic Stetoskop (Mediskop) juga mampu merekam suara jantung janin pada ibu hamil,” jelas Ayu Dwi Silvia Putri, koordinator kelompok mahasiswa UGM di Yogyakarta.
Awalnya, stetoskop elektronik yang dikembangkan itu sebagai alat peraga pendidikan yang membantu mahasiswa calon dokter dan perawat untuk mengenal bentuk suara abnormal detak jantung dan paru-paru saat memeriksa pasien dengan alat tersebut.
Dalam perkembangannya, alat itu bisa untuk menentukan diagnosa penyakit pasien. Data rekaman bisa diputar berulang-ulang dan menjadi bahan diskusi tenaga kesehatan sebelum memberikan hasil diagnosa, imbuh Ayu.
Ide awal untuk membuat stetoskop elektronik itu timbul karena kesulitan membedakan suara normal dan abnormal dari jantung dan paru-paru. Mediskop diharapkan bisa membantu mahasiswa dan bisa dipakai di klinik kesehatan dan rumah sakit. Untuk membuat Mediskop, menghabiskan uang sebesar Rp150 ribu.
Saat ini, Mediskop belum diproduksi massal karena masih terus dikembangkan dan rencananya, Mediskop akan dilengkapi monitor kecil untuk menggambarkan data grafis suara jantung dan paru-paru, jelas Ayu Dwi Silvia Putri.
Cara kerja Mediskop ini tidak menghilangkan peran dan fungsi stetoskop karena masih menggunakan bagian penting dari stetoskop: ear piece, tube, dan chest piece stetoskop.
Mediskop ini dilengkapi dengan sebuah kotak mini berukuran 7×3 cm2, yaitu rangkaian yang terdiri dari sound recorder, colokkan kabel data USB, dan memiliki sambungan bila ingin langsung didengarkan melalui speaker.
Fungsi awal Mediskop didesain untuk membantu mahasiswa saat belajar praktek pemeriksaan fisik pasien karena selama proses pembelajaran berlangsung, mereka hanya memakai hasil pemeriksaan dokter melalui stetoskop manual, bahkan, tidak jarang dalam proses praktik kami hanya menggunakan boneka phantom, jelas mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM ini.
