JAKARTA, BERNAS.ID – Insan pariwisata secara solid dan kontributif berkolaborasi dalam pembangunan kepariwisataan Indonesia. Selain dalam memajukan usaha dan meningkatkan karir individu, pelaku pariwisata dituntut terlibat secara aktif namun tetap proporsional dalam pengembangan dan peningkatan kualitas destinasi dan SDM.
Hal itu disampaikan Ketut Swabawa, CHA ketika dihubungi via telepon oleh Bernas.id terkait sebagai salah satu penerima award dalam kategori “Indonesia Top Hospitality Leader 2023/2024” di ajang the 14th Indonesia Travel and Tourism Award 2023/2024 semalam (11/12/2023) di Gedung Sapta Pesona Kemenparekraf, Jakarta.
Acara dihadiri langsung oleh Sandiaga Salahuddin Uno (Menparekraf), Panca Sarungu (President ITTA Fondation), para ketua asosiasi kepariwisataan, pimpinan usaha pariwisata dan airlines serta lainnya.
Baca Juga : Lalui Perjalanan Panjang, Kamwis Purbayan Raih Juara 2 Desa Wisata Berkembang
“Industri pariwisata ini tanggung jawab semua pihak dan bukan hanya di lingkaran unsur pentahelic, namun juga sektor lainnya seperti perdagangan, pertanian, perbankan, otomotif, kesehatan, manufaktur dan sebagainya. Saya sampaikan demikian karena telah terbukti bahwa sektor parekraf ini telah berhasil sebagai exit and winning strategy di masa recovery masa pandemi COVID-19 lalu,” ujar Ketut Swabawa, Ketua Umum DPP Association of Hospitality Leaders Indonesia (AHLI) tersebut, Selasa (12/12/2023).
Kiprah Swabawa selama ini di tingkat nasional dan lintas divisi ini cukup menjadi alasan bagi pihak Yayasan Indonesia Travel & Tourism Award (ITTA) untuk memberikan penghargaan bergengsi bagi tokoh pimpinan kepariwisataan tersebut kepadanya.
Selain sebagai konsultan manajemen perhotelan untuk membantu para local owner dalam menguatkan brand dan bersaing dengan chain hotel yang ada, pria asal Bali ini juga konsisten dalam membangun kapasitas SDM dan mendorong kemajuan karir talenta lokal ke jenjang yang lebih tinggi.
Tercatat dalam daftar riwayat hidupnya ada sekitar 300 lebih sesi motivasi dan pelatihan baik untuk karyawan perusahaan maupun mahasiswa kampus yang dibawakannya.
Tidak hanya di sektor perhotelan dan pariwisata, ia juga sering diundang untuk beberapa seri program sebagai motivator dan mentor pada BUMN seperti Angkasa Pura, Pelindo, BNI dan lainnya.
Di masa awal pandemi pada tahun 2020 Swabawa memimpin Tim Pokja di Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) dalam pengembangan desa wisata bersama Kemenparekraf.
Dilanjutkan kembali pada tahun 2022 hingga 2023 ini ditugaskan dalam program KSW 5.0 Kemenparekraf sebagai penyusun untuk pengkinian module Sapta Pesona 5.0 sekaligus sebagai master trainer dan pendamping pada program yang menyasar 65 desa di kawasan 6 Destinasi Pariwisata Prioritas.
Bersama 14 tokoh pariwisata lainnya melahirkan dan mendirikan Association of Hospitality Leaders Indonesia (AHLI) dan Swabawa diberikan mandat sebagai Ketua Umum pertama asosiasi tersebut.
Pada MUNAS AHLI 2022 ia kembali terpilih secara aklamasi untuk memimpin asosiasi yang terdiri dari para pimpinan (GM/Director/CEO/Owner) berbagai usaha pariwisata di Indonesia tersebut hingga tahun 2026 mendatang.
Sebelumnya Swabawa juga telah meraih Indonesia Tourism Professional Development Award di Surabaya pada tahun 2021 lalu, Bali Top Hospitality Leader Award dan juga Indonesia Tourism Business Award.
Telah menulis 8 buku kepariwisataan dan perhotelan untuk kalangan praktisi, akademisi dan materi ajar di SMK.
Sejak 2016 aktif menyelenggarakan program Hotel General Manager Course di Lombok, Yogyakarta, Makassar, Labuan Bajo dan Bali tentunya.
Pada masa pandemi berkembang lagi ke divisi lainnya yakni pelatihan Sales & Marketing Manager, Food & Beverage Manager, Rooms Division Manager dan Supervisory Course.
Baca Juga : Festival Van Der Wijck Lolos Kharisma Event Nusantara Kemenparekraf
Pria yang mengawali karirnya sejak tahun 1993 sebagai daily worker engineer ini memiliki motto hidup “change is chance”.
“Berubah berarti peluang, perubahan akan selalu terjadi. Jika kita tidak ambil kesempatan itu, maka kesempatan akan menjadi milik orang lain. Jika kita tidak pernah berubah secara positif atau dengan istilah kekinian yaitu adaptasi dan inovasi maka kita tidak pernah menciptakan peluang, apalagi memilikinya. Saya tetap belajar dan masih banyak hal yang saya ingin pelajari dan jelajahi,” kata pria suami Ayu Kusmari Dewi dan ayah dari 3 anak ini. (*)
