YOGYAKARTA, BERNAS.ID- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendukung Kota Yogyakarta menjadi Kota Kreatif Dunia Unesco. Dukungan ini diberikan karena Kota Yogyakarta memiliki potensi ekonomi kreatif di bidang kuliner, fashion, dan kriya.
Menparekraf RI, Sandiaga Uno mengatakan ekosistem ekonomi kreatif di Kota Yogyakarta sudah mulai terbangun apalagi nanti didukung dengan keberadaan Bandara YIA yang terhubung ke banyak negara. Menurutnya, jaringan infrastruktur tersebut sangat berpotensi membangun ekonomi Yogyakarta.
“Jogja ini sangat berpotensi. Semuanya kreatif dan sudah saatnya, kita secara serius mengajukan sebagai kota kreatif. Kita akan langsung melengkapi ketentuan untuk didaftarkan ke Unesco sebagai Kota Kreatif,” tuturnya ke awak media, Sabtu (20/7).
Dalam waktu tiga bulan ke depan, Sandi menyebut Kemenparekraf akan segera menyiapkannya bersama Pemerintah Kota Yogyakarta dan Dinas Pariwisata DIY.
Kepada ratusan pelaku UMKM DIY, Sandiaga berpesan agar menjalani usahanya dengan tabah, jujur, dan setia. Selain itu, pelaku UMKM terus diajak untuk berinovasi dan melek teknologi seperti memanfaatkan media sosial.
“Pelaku UMKM harus melibatkan pelaku kreatif agar produknya dikenal secara luas. Selain itu memperbanyak kolaborasi atau silahturahmi untuk membangun jaringan,” katanya.
Lanjut tambahnya, pelaku UMKM juga dituntut untuk berinovasi dengan produknya agar dilirik Generasi Z yang sering mengikuti trend kekinian. Ia pun mengapresiasi produk baju batik dalam bentuk outer bukan hem saja sehingga banyak diminati kalangan muda.
“Terakhir, pemerintah dan dunia usaha harus memberi insentif kepada pelaku UMKM agar terus berkembang,” katanya.
Menparekraf mencontohkan negara Swiss memberikan insentif kepada pengusaha coklat terkait impor karena produk coklat menjadi national branding. Insentif diberikan karena tidak adanya satu pun pohon coklat di Swiss sehingga bahan baku 100 persen import.
Berdasarkan laporan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, pada masa liburan sekolah, Kota Yogyakarta dikunjungi 5 juta lebih wisatawan dengan total nilai transaksi mencapai Rp11 trilyun lebih. Angka tersebut menunjukkan produk kuliner, fashion, dan kriya diminati dan menjadi daya tarik jutaan wisatawan yang datang ke Kota Yogyakarta. (jat)
