SLEMAN, BERNAS.ID- Puluhan petani yang tergabung dalam paguyuban Petani Madani Sleman menyampaikan sejumlah persoalan pertanian di kawasan persawahan Harjobinangun Pakem Sleman, Rabu (30/10). Mereka pun mengjnginkan harapan baru untuk pemimpin baru Sleman yang baru agar tidak lagi mengalami kesulitan pada sektor pertanian di masa yang akan datang.
Salah satunya, petani cabai asal Turi, Suhar (67) mengungkapkan keluh-kesahnya tentang tanaman cabai yang sering terkena penyakit pathek sehingga beresiko gagal panen. Namun, saat berupaya menyelamatkan tanamannya, ia justru kesulitan mencari obat dan minim bantuan dari pemerintah.
Baca Juga Sri Sultan Ikut Panen Di Lumbung Mataraman Gunungkidul
Petani lainnya, Fatonah mengungkapkan keluhan berupa kendala masalah pengairan. Menurutnya, kesulitan air diakuinya sudah lama terjadi, bahkan nyaris tiap kali musim kemarau tiba.
“Kami sudah mengupayakan membuat sumur sendiri tapi airnya juga kering. Bahkan kami sampai membawa air galon dari rumah untuk menyirami tanaman,” keluh petani asal Kalasan ini.
Fatonah juga berharap para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang diutus dinas bisa mendampingi masyarakat tanpa tebang pilih. Selama ini, yang dirasakan hanya kelompok tani saja yang mendapat perhatian tidak dengan petani mandiri, itupun dinilai berdasar suka tidak suka serta berdasar arahan pemimpin.
“Selama ini yang gagal itu yang perorangan, ini yang perlu didampingi. Kami protesnya ke Pemerintahan Kabupaten Sleman. Kami untung dan rugi ya ditanggung sendiri, ini yang harapannya mendapat pendampingan. Semoga pemimpin baru Sleman nanti mendengarkan curahan hati kami,” tuturnya.
Lain lagi keluhan dari Suswantini, petani asal Seyegan. Ia mengungkapkan selama ini bersama rekannya mengalami banyak persoalan pupuk mahal hingga harga komoditas yang tidak menguntungkan. Selama ini mereka yang bekerja secara mandiri kesulitan mengakses bantuan seperti peralatan pertanian.
“Selama ini kami mencari solusi sendiri. Kalau ada alat pun dipakai ketua kelompok tani saja yang lainnya tidak bisa pakai. Anggota tidak bisa mengakses. Seperti traktor, bajak dipakai sendiri, tidak digilir. Kami ingin bisa menikmati bantuan dari pemerintah, bukan untuk pribadi perorangan saja,” keluhnya. (jat)
