Bernas.id – Sumringah perhelatan MotoGP di Mandalika berlalu sudah. Tulisan ini tentu bukan membahas adanya permainan billiard, sama sekali bukan! Atau mengulas dari garis start hingga melahirkan pemenang balapan motor disana.. bukan!
Semua orang tahu bahwa kata “mandalika” yang pertama kali hanya dikenal sebagai nama putri cantik dalam dongeng yang melegenda dan semakin dihafal melalui festival bau nyale sekitar bulan Februari-Maret setiap tahunnya.
Dalam dimensi berbeda, kata Mandalika menjadi nama salah satu destinasi di pulau Lombok yang debutnya masih di bawah Senggigi di Lombok Barat. Ya, nama itu dipilih lagi-lagi karena identik dengan dongeng putri Mandalika yang diyakini lokasi kejadiannya adalah memang di destinasi tersebut.
Demikian kisah yang saya dengar dari rekan-rekan di Lombok, hal ini dibuktikan pula kaitan dengan Nyale, jenis cacing laut yang hidup di rongga-rongga karang air laut dimana hanya muncul di waktu-waktu tertentu (antara Februari-Maret) dan hanya berlokasi di pantai Mandalika saja.
“Billiard”-nya Mandalika mana? Apa?
Sebagian orang mungkin fokus dan berpandangan bahwa pembahasan Mandalika dimana-mana saat ini adalah seputar MotoGP. Dan sedikit bagian lagi mungkin berpandangan sama dengan saya : multi-flier effect ! Seperti bermain billiard, untuk memasukkan bola ke lobang bisa juga dilakukan dg trik memfokuskan pada satu bola yang akan menggerakkan bola lainnya.
Kita bisa melihat bahwa topik motoGP ini berkembang dan meletupkan topik-topik lainnya yang tidak kalah tenar dengan kemenangan Miguel Olievera saat itu. Kemenangan yang telak mampu diraih Indonesia dalam perhelatan MotoGP ini adalah : euphoria yang berhasil menarik atensi dunia melalui berbagai pergerakan bola “sodokan billiard” ini. Alhasil : seluruh mata dan topik bahasan tertuju pada Mandalika, INDONESIA !
Pada era transisi dan reaktivasi industri saat ini, hal tersebut sangatlah penting. Mengangkat kembali popularitas dan menciptakan minat untuk mendatanginya.
Apa saja permainan billiard tersebut ?
1. Selfie Marques
Begitu tiba di bandara internasional Zainuddin Abdul Majid Lombok sang pembalap langsung selfie di depan arrival building bertuliskan huruf Lombok berwarna merah dan memposting di medsosnya… euphoria mulai pecah! Selain banyak yang merepost, bahkan sampai meniru gaya selfie Marques.
2. Audiensi dengan Jokowi
Perhelatan motoGP yang menjadi atensi serius Presiden Joko Widodo dengan menemui para pembalap yang akan berlaga dalam audiensi di istana negara adalah berita viral yang melambungkan nama Indonesia tentunya.
3. Aksi Mbak Rara
Wanita pawang hujan yang berkeliling sirkuit Mandalika di acara puncak motoGP untuk menghentikan hujan yang turun adalah pemandangan langka bagi orang asing yang ada di sana saat itu. Entah sifatnya bully atau salut, fenomena ini merebak menjadi isu sentral di berbagai media. Sampai-sampai para pembalap dan official menirukan gaya mbak Rara dan mengabadikannya dalam postingan medsosnya.
4. Risman Taye sang Hotelier
Hotelier adalah sosok tangguh yang bekerja dengan tulus dan penuh kepribadian selalu berorientasi pada target kepuasan tamu. Risman yang selalu membantu kebutuhan Miguel Oliviera selama menginap di hotel dia bekerja mendadak viral dan masuk daftar berita dimana-dimana ketika sang pembalap ini menyebut nama Risman sesaat setelah dinobatkan sebagai juara motoGP Mandalika 2022.
Apa Anda ada menemukan billiard lainnya? Entahlah.. yang jelas MotoGP Mandalika telah berlalu. Billiardnya telah menciptakan viral luar biasa, enggak tahu juga untuk berapa lama.
Intinya kita melihat bahwa strategi pemasaran termasuk dalam destinasi pariwisata membutuhkan metode dan hal-hal baru. Secara prinsip adalah yang mampu menciptakan opini publik untuk diminati dan bukan sekedar diketahui informasinya saja. Dari pengalaman motoGP Mandalika di atas maka harusnya ada pihak tertentu yang menindaklanjuti euphoria tersebut agar tidak cepat sirna ditenggelamkan opini liar yang beredar.
Misalnya penonton yang terlantar, kekhawatiran asset dan biaya besar tidak memberi manfaat berkelanjutan, isu mahalnya harga kamar jauh sebelum motoGP berlangsung, isu kekurangan kamar tamu yang malahan faktanya masih banyak properti yang tidak fullhouse.
Balapan yang juga terjadi di penyediaan sarana akomodasi berupa percepatan pembangunan sarana hunian wisata (sarhuta), kawasan camping untuk tenda menginap hingga kamar di kapal laut yang bersandar di dermaga tidak terdengar hiruk pikuk keramaiannya dari segi bisnis. Berapa pendapatan dari sana? Bagaimana nasib investasi di akomodasi temporary tersebut?
Entahlah, saya belum menemukan informasi jelasnya. Jumlah penonton di puncak motoGP (Minggu/20 Maret 2022) juga hanya mencapai 62.923 orang masih dibawah target kapasitas 100.000 seat yang disediakan. Secara akumulatif selama 3 hari lomba memang mencapai 102.801 orang.
Semoga kita semua senantiasa bisa belajar dari pengalaman bahwa :
- Pariwisata adalah industri keramahtamahan dan kesenangan yang basisnya dimulai dari SDM yang berkualitas;
- Pariwisata bukan hanya leading sector namun multi-trans sectors yang tidak bisa berdiri sendiri namun beriringan dengan sektor pendukung lainnya;
- Pariwisata yang konsepnya man made butuh kajian dan pengelolaan berkelanjutan demi kebermanfaatan jangka panjang;
- Pariwisata adalah sebuah perjalanan sempurna, tidak mungkin dan bisa dikelola parsial dan temporary: dan yang terpenting kita bisa pelajari dari “billiard” di atas adalah :
- Strategi Pemasaran Pariwisata bukan sekedar mencapai popularitas sebagai single target, namun membangun kepercayaan publik untuk mencapai customer and brand loyalty.
Selamat bermain Billiard !
Penulis : Ketut Swabawa, Praktisi Pariwisata dan Hospitality Trainer
