YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Mengamati paham radikalisme dan terorisme pada generasi milenial yang mulai berkembang pada masyarakat Indonesia khususnya pada pemuda dan kaum pelajar, Akademi Sekretari dan Manajemen Marsudirini (ASMI) Santa Maria Yogyakarta menggelar Kuliah Umum dengan tema “Urgensi Bela Negara Melalui Pencegahan Radikalisme Bagi Generasi Milenial” pada hari Jumat (8/11/2019) bertempat di Auditorium Kampus ASMI Santa Maria Yogyakarta, Jalan Bener No 14, Tegalrejo, Yogyakarta.
Seminar ini dipandu oleh moderator, Drs. De Santo Yohanes, M.M. dan menghadirkan pembicara Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum. Ph.D of Art.
Direktur ASMI Santa Maria Yogyakarta, Drs. Suraja, MSI., M.M., dalam sambutannya mengatakan tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang paham radikalisme, supaya pemuda dan kaum pelajar tidak salah persepsi dan menyikapi hal tersebut karena kalangan remaja adalah hal yang mudah dipengaruhi dengan paham-paham radikal.
“Radikalisme tidak hanya berdampak negatif, namun kita harus pandai membuat pemahaman radikalisme menjadi positif. Berpikir dan bekerja hingga melampaui kebiasaan, untuk mengubah keadaan yang memang harus diubah secara cepat, maka kegiatan itu disebut sebagai perbuatan radikal, yaitu radikalisme positif,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum. Ph.D of Art., menyampaikan bahwa saat ini anak muda menjadi sasaran empuk oleh orang-orang yang ingin mengembangkan faham radikalisme, kita bisa melihat akhir-akhir ini konflik yang dihadapi bangsa saat ini dikarenakan berkembangnya informasi-informasi paham radikalisme terhadap anak muda terutama mahasiswa. Para mahasiswa yang kini terindoktrin ajaran radikal ibarat bibit-bibit yang baru mau bertumbuh, saat ini mereka tidak menimbulkan bahaya apa pun bagi masyarakat. Tetapi pikiran negatif yang terus muncul pada paham radikalisme, akan menjadi sangat berbahaya bagi dunia pendidikan, ketika mereka sudah dewasa, memiliki kekuasaan, sumberdaya atau akses tertentu.
“Yang kita hadapi ini sangat serius, ancaman radikalisme yang berpotensi terorisme ingin menggeser idealisme Indonesia. Sikap yang ingin melakukan perubahan menyimpang dan memanipulator segala aspek kehidupan harus kita hindari,” tandasnya.
Mukhtasar berharap kepada mahasiswa supaya mahasiswa harus betul-betul memanfaatkan teknologi dengan kemampuan menganalisa, apakah berita ini benar atau tidak benar karena yang terjadi saat ini banyak permasalahan yang timbul akibat provokasi dari berita bohong, dari berita tidak jelas dan dari berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
“Upaya untuk mencegah radikalisme yang pertama memperkenalkan ilmu pengetahuan dengan baik dan benar, memahamkan ilmu pengetahuan dengan baik dan benar, meminimalisir kesenjangan sosial, menjaga persatuan dan kesatuan, mendukung aksi perdamaian dan berperan aktif dalam melaporkan redikalisme dan terorisme, serta menyaring informasi-informasi yang didapatkan,” pungkasnya.
(Aji Pangestu, Mahasiswa Program Studi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta)
