Bernas.id – Kemajuan teknologi memang tak bisa dibendung. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menegaskan bahwa era revolusi industri 4.0 tidak bisa dihindari sehingga perguruan tinggi (PT) harus lebih kreatif, inovatif dan menerapkan multidisiplin.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
“Perkembangan pendidikan di Indonesia menghadapi kondisi era revolusi industri 4.0 memerlukan kebijakan berbeda di perguruan tinggi,” kata Nasir ketika memberikan kuliah umum Kebijakan Pendidikan Tinggi untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 di Universitas Gunadarma Kampus J6, Bekasi, Selasa (6/3).
Dikatakan Menristekdikti, dalam pendidikan global di era revolusi industri 4.0, tidak lagi menciptakan batas karena adanya kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK), yaitu tidak bisa lagi menghindari internet, sistem cloud computing, media, persaingan.
“Bukan negara dengan penduduk jumlah besar yang akan menang dalam persaingan, tetapi negara dengan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menghasilkan inovasi yang akan menang,” katanya.
Baca juga: 5 Universitas Jurusan Sistem Informasi Terbaik di Indonesia
Menritekdikti memberikan contoh tentang pergeseran profesi dengan adanya artificial intelligence (AI), misal profesi akuntan bisa saja diambil alih oleh ahli TIK yang menguasai AI.
“Riset di Korea Selatan di Daejun membuat chip terkecil di dunia untuk dimasukkan ke pembuluh darah untuk merekam kondisi kesehatan selama satu tahun. Dengan BIG Data, chip ini juga mampu menyimpan data personal dna mendeteksi lokasi,” ujar dia.
Terkait posisi, Menristekdikti menyebut Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menjalankan revolusi industri 4.0, tapi belum mampu “berlari kencang” menyusul Singapura, Malaysia, Thailand. Indonesia pun harus berhati-hati dengan Vietnam. Untuk itu, kompetisi dan kompetensi harus diperkuat.
Baca juga: 13 Universitas Jurusan Akuntansi Terbaik Indonesia dan Luar Negeri
