Bernas.id – Setiap 8 Maret Hari Perempuan Internasional diperingati di berbagai negara di penjuru dunia. Pakar sejarah gerakan perempuan dari Universitas Harvard, Temma Kaplan, dalam On the Socialist Origins of International Women's Day mengungkapkan bahwa alasan pemilihan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional didasari oleh kabar yang beredar di kalangan kolumnis Perancis mengenai seorang buruh tekstil perempuan yang melakukan demonstrasi memprotes upah kecil pada 8 Maret 1857 di New York. Peristiwa itu kemudian diperingati 50 tahun kemudian yang menandai tonggak awal Hari Perempuan Internasional.
Kaplan sendiri sebenarnya meragukan kebenaran peristiwa demonstrasi pada 1857 tersebut. Namun, menurut Kaplan, masyarakat Eropa sudah kadung menganggap tanggal itu merupakan awal Hari Perempuan Internasional. Terutama setelah dirayakan kembali pada 1907. “Peristiwa itu sepertinya tidak pernah terjadi. Namun, banyakorang Eropa menganggap 8 Maret 1907 sebagai awal mula Hari Perempuan Internasiona,” tulisnya dalam artikel yang diterbitkan di jurnal Feminist Studies tahun 1985 itu.
Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, kronologi Hari Perempouan Internasional hingga bisa dirayakan setiap tahun seperti sekarang. Dalam catatan organisasi yang bermarkas di New York itu, gagasan perayaan Hari Perempuan Internasional pertama kali diusulkan pada pertemuan berbagai organisasi sosialis di Kopenhagen pada 1910. Tujuannya, supaya gerakan perempuan bisa lebih universal tidak terbatas pada negara-negara tertentu saja. Usulan itu diterima dengan baik. oleh peserta pertemuan. Lebih dari 100 perempuan dari 17 negara yang hadir dalam pertemuan itu menyutujuinya.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan Kopenhagen, Pada 1911, Hari Perempuan Internasional dirayakan pertama kali di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Perayaan umumnya berbentuk demonstrasi menuntut pemenuhan hak-hak perempuan, misalnya kesetaraan hak dipilih sebagai pejabat publik, kesetaraan hak dalam pekerjaan, dan mengakhiri diskriminasi. Lebih dari satu juta orang baik laki-laki maupun perempuan tercatat berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut.
Pada 1913 hingga 1914, Hari Perempuan Internasional menjadi momentum untuk memprotes Perang Dunia I. Para perempuan di berbagai negara di Eropa menggelar demonstrasi memprotes perang. Aksi-aksi seperti ini cepat menyebar berkat solidaritas yang terbangun di antara para aktivis.
Pada 1917, para perempuan di Rusia menggelar demonstrasi menuntut negara tersebut berhenti berperang dan memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, para perempuan juga menuntut persamaan hak. Tuntutan yang terakhir itu segera terpenuhi dengan diizinkannya perempuan berpartisipasi dalam pemilu.
PBB sendiri mulai merayakan Hari Perempuan Internasional pada 1975. Sejak saat itu, Hari Perempuan Internasional rutin dirayakan di berbagai negara di penjuru dunia. PBB memaknai Hari Perempuan Internasional sebagai hari untuk merayakan kesadaran kolektif perempuan atas hak-hak yang mesti mereka perjuangkan.
