Bernas.id – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan komitmennya untuk penerapan “go digital” guna memperkuat branding Wonderful Indonesia di tingkat internasional.
Menpar Arief Yahya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (13/3) menyebut peran pemerintah di era siber harus semakin fleksibel agar dapat memenuhi tuntutan zaman.
“Kehadiran dunia digital menentukan deregulasi agar pemerintah menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” kata Arief.
Terlebih, menurut dia, seiring dengan perubahan konsumen yang makin digital dan “hyper-connected” kini muncul tren “sharing economy” di sektor pariwisata.
Ia menambahkan, model bisnis berbagi ini merupakan cara baru yang dilakukan oleh generasi baru milenial untuk melakukan bisnis dengan cara yang lebih efisien yaitu saling berbagi dalam memanfaatkan aset atau sumber-sumber daya yang ada.
“Jika dahulu dalam pendekatan 'owning economy' harus menguasai, membeli aset, memerlukan capital expenditure, dan banyak kapasitas tidak terpakai, maka sekarang ini dengan 'sharing economy' tanpa harus melakukan hal tersebut akan lebih banyak memanfaatkan semaksimal mungkin kapasitas tersedia dan lebih sangat efisien,” katanya.
Dengan menerapkan “sharing economy” kini bermunculan perusahaan-perusahaan digital yang mampu secara revolusioner mengubah lanskap industri pariwisata.
Misalnya, perusahaan AirBnB yang sama sekali tidak memiliki hotel kini bisa menjadi perusahaan pemesanan kamar terbesar di dunia.
Demikian halnya perusahaan Uber yang tidak memiliki armada taksi bisa menjadi perusahaan pemesanan taksi terbesar di dunia.
Begitu pula Grab dan Gojek telah memiliki kapitalisasi pasar lebih besar yaitu masing-masing Rp20 triliun dan Rp38 triliun mengalahkan Blue Bird dan Garuda Indonesia yang memiliki kapitalisasi pasar masing-masing Rp9,8 triliun dan Rp12,3 triliun.
Hal ini juga terjadi pada online travel agent, seperti Traveloka bisa bernilai sekitar Rp15 triliun mengalahkan perusahaan travel agent besar di Indonesia yang memiliki kapitalisasi kurang dari Rp1 triliun.
Melihat tren dunia tersebut, menurut Arief Yahya, maka jelas industri pariwisata nasional harus mengambil peluang dari munculnya “sharing economy” untuk menyatukan dan mengolaborasikan seluruh elemen Pentaheliks (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media) dalam payung Indonesia Incorporated.
