Bernas.id – Pekerjaan menjadi seorang ‘penulis’ sekarang ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Apabila masih ada beberapa orang yang menjadikan ‘penulis’ sebagai pekerjaan sampingan, tetapi banyak juga orang yang sudah menjadikan ‘penulis’ sebagai pekerjaan utama. Banyak ‘penulis-penulis’ hebat yang memang menjadikan ‘penulis’ sebagai pekerjaan utama, seperti Brilli Agung, Tere Liye, Asma Nadia, Andrea Hirata dan masih banyak lagi penulis hebat lainnya.
Baca juga: Contoh Paragraf Induktif, Deduktif, Campuran, dan Ineratif
Setiap penulis memiliki sasaran yang berbeda-beda pada tulisannya, tetapi memiliki satu tujuan yang sama untuk pembacanya. Setiap buku yang mereka hasilkan memiliki tujuan yang sama agar bermanfaat bagi pembacanya. Adakalanya tulisan yang dihasilkan oleh penulis berasal dari kisah nyata yang pernah dialami oleh penulis sendiri atau orang di sekitarnya. Ada juga tulisan itu sebuah karangan fiksi yang sarat akan imajinasi dan khayalan. Setiap tulisan bahkan sebuah novel fiksi petualangan imajinasi seperti ‘Harry Potter’ karya J.K. Rowling memiliki pitutur yang ingin disampaikan oleh penulis pada pembacanya.
Oleh karena itu, tidak jarang juga ada seseorang yang mengagumi, terinspirasi bahkan mencontoh tokoh atau terpengaruh pada sebuah buku. Bagi penulis sendiri, menulis bisa dijadikan sebagai media untuk mengekspresikan diri berbagai macam emosi yang tengah dirasakan. Ada pula yang menjadikan menulis sebagai terapi. Melalui yang dialami, diperoleh dan dirasakan kemudian dijadikan sebuah karya. Akhirnya mampu menghipnotis orang yang membacanya.
Baca juga: Bagaimana Cara Membuat Teks Persuasif Sesuai Jenis dan Strukturnya?
Sebuah tulisan akan berpengaruh pada orang lain dan dijadikan referensi bahkan dicontoh. Secara psikologi tulisan yang menghipnotis akan mampu membuat pembacanya terinspirasi. Mengapa bisa jadi demikian? Umumnya pembaca yang terinspirasi dan mencontoh sebuah buku karena merasakan hal yang sama seperti yang disampaikan oleh penulis. Ketika merasakan hal yang sama dan menemukan solusi, secara otomatis seseorang akan menirunya.
Fungsi penulis yang semacam itu sama halnya seperti psikolog. Seseorang akan datang pada psikolog saat merasa dalam dirinya terdapat sebuah permasalahan, lalu butuh penanganan, jalan keluar dari permasalahannya atau sesuatu yang perlu ditingkatkan. Seorang ibu akan datang ke toko buku mencari buku yang dirasa mampu berpengaruh baik untuk tumbuh kembang anaknya. Contoh lain seseorang yang membutuhkan hiburan akan datang ke toko buku untuk mencari buku dengan genre humor, seperti komik dan semacamnya. Seseorang yang membutuhkan peningkatan dalam religinya akan datang ke toko buku untuk membeli buku religi sebagai mutiara imannya. Penulis layaknya psikolog, buku layaknya terapis dan solusi untuk pembacanya.
Baca juga:
