Bernas.id – Beberapa tahun yang lalu, padatnya kendaraan di daerah pedesaan hanya berlangsung kala libur panjang. Namun sekarang telah berubah. Desa saat ini menjadi pusat perhatian, baik itu masyarakat pada umumnya atau pun instansi yang berwenang untuk mengembangkan potensi daerah. Tidak menyangsikan manakala kesibukan menjadikan diri membutuhkan waktu sejenak untuk bersantai kala akhir pekan. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang dapat memudahkan seseorang sampai pada lokasi terpencil. Ditambah dengan keinginan eksistensi diri di sosial media, rasanya lengkap apabila desa saat ini menjadi pusat perbincangan.
Kearifan lokal menjadikan sebuah desa tetap dengan kondisi yang tenang dan memberikan kenyamanan manakala berada di tempat tersebut. Keadaan yang sudah mulai hilang di pusat perkotaan. Sehingga menjadi hal menarik manakala desa wisata tidak hanya menyajikan keindahan alamnya, tapi juga kearifan daerah untuk dapat dirasakan para pengunjung.
Pengembangan desa berpontensi wisata tidak cukup hanya berpaku pada kelengkapan fasilitas, perbaikan akses jalan, dan sebagainya. Menjaga kearifan desa dapat dijadikan pokok utama untuk tetap ada. Ramahnya warga desa dengan murah senyumnya, menyapa terlebih dahulu tanpa harus kenal, kebersihan lingkungan serta rasa canggung untuk tidak berpakaian sopan. Menjadi hal yang patut tetap dipertahankan dalam sebuah desa.
Manakala dinas dan sejenisnya memberikan bantuan dalam hal pengembangan dari segi fasilitas. Sebagai anggota masyarakat, kita dapat mengambil andil dalam pengembangan desa, yaitu dengan menjaga kearifan daerah. Setiap desa pasti memiliki kearifan daerah khas yang telah turun temurun dan diakui oleh masyarakat luas. Kearifan lokal dengan bentuk kebijaksanaan yang didasari oleh nilai-nilai kebaikan yang dipercaya, diterapkan serta dijaga turun dalam kurun waktu yang cukup lama.
Kearifan lokal terdiri dari pola pikir masyarakat yang berkaitan dengan kebaikan budi pekerti, perasaan mendalam terhadap tanah kelahiran, santunnya perangai, juga keinginan akan menjaga adat atau tradisi yang telah diikuti secara turun temurun. Kebiasaan masyarakat menjadikan tempat tinggalnya tetap asri dengan kegiatan gotong royongnya, manajemen dalam rumah, dan sebagainya. Sayang bukan ketika ini hanya sebatas kenangan?
Lantas apa yang bisa dilakukan untuk menjaga kearifan daerah agar tetap lestari?
Mengenal Lebih Dekat
Menjadi bagian masyarakat desa, menjadikan diri ikut serta dalam beberapa kegiatan atau pun kebiasaan yang ada. Tidak cukup ketika hanya sekadar ikut. Menghayati setiap kegiatan yang dilakukan dapat terjadi, manakala mengetahui seluk beluknya. Kalaupun bukan menjadi bagian dari masyarakat desa, kearifan lokal merupakan kekayaan Indonesia yang sangat membutuhkan untuk dipertahanankan. Dengan mengenal lebih dekat, kita lebih bisa menghargai dan akan mudah dalam mempraktikan setiap kebaikan yang diturunkan dari zaman lampau.
Mempraktikkan
Belajar tidak akan berbekas banyak manakala tidak mempraktikkan. Banyaknya kearifan lokal bisa kita ambil satu persatu untuk diaplikasikan di kehidupan. Mengambil peninggalan kebaikan akan budi pekerti, ringan untuk saling tolong menolong, dan sebagainya.
Membiasakan diri untuk mengamalkan ilmu kebaikan yang didapat, akan memberikan keteladanan yang lebih mudah untuk ditiru dibanding hanya celotehan tanpa tindakan. Bisa kita menjaga kearifan lokal dengan melakukan dan selanjutnya adalah menyampaikan.
Sampaikan
Kecanggihan teknologi tidak hanya untuk kebutuhan diri. Ketika banyak hal dapat dibagikan dengan mudah di sosial media, kita bisa membagikan banyak kearifan lokal yang telah dipelajari melalui media ini. Perjalanan di suatu desa, tak hanya terpaku pada eloknya alam, tapi juga kisah akan orang-orang di sekitar yang berupaya untuk menjaga, baik lingkungan dan nilai luhur lainnya.
Manakala diri menjadi bagian akan desa wisata di suatu tempat, bisa dengan mengusulkan akan program kearifan lokal tersebut. Paket wisata dengan mengikutsertakan akan kekayaan desa, seperti daerah Yogyakarta dengan petik salak di kebun, Bali akan tarian daerah serta tradisinya, dan lain-lain.
Tidak hanya menuntut pihak lain untuk menjaga, tapi jadilah bagian dalam penjagaan. Kita dilahirkan bukan untuk sekadar merutuk, perubahan ada sebab mereka mau untuk bergerak. Tak tergerakkah diri untuk tak sekadar menjadi penonton?
