Bernas.id – Ada sesuatu yang sangat dekat dengan kita. Ia lebih dekat daripada hubungan ibu dan anak. Ia lebih dekat daripada jarak antara jari tengah dan telunjuk. Dan bahkan, ia lebih dekat daripada jarak kedua alis kita.
Manusia hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Setiap insan yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Ketika raga terbujur kaku, ketika nyawa yang direnggut paksa dari tubuh, ketika semua orang di sekitar kita tersedu melepas kita, itulah yang dinamakan dengan kematian.
Kematian, sesuatu yang paling dekat dengan kita. Datangnya tak disangka-sangka. Ketika ia datang menjemput, kita tak bisa menolak atau sembunyi. Kematian bisa datang di mana pun kapan pun, tanpa kita menyadarinya. Tak ada peringatan ketika ia akan datang, kehadirannya begitu spontan dan tiba-tiba.
Pernahkah kamu berpikir, ketika malaikat pencabut nyawa datang kepadamu, apa yang telah kamu persiapkan untuk disetor ke akhirat nanti? Apakah amalan baik kita sudah cukup untuk dipertanggungjawabkan di sidang akhir nanti? Dapatkah amalan baik yang telah kita lakukan ini membawa kita ke kenikmatan yang hakiki?
Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Ladang yang seharusnya ditanami benih-benih kebajikan. Keberadaan dunia sangatlah fana. Dunia hanya tempat transit kita. Tempat kita untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk memperjuangkan puncak kenikmatan.
Mengingat waktu kita yang tak bisa dipastikan kapan akan berakhir, marilah kita kembali ke jalan yang lurus. Persiapkan akhiratmu, niscaya kenikmatan dunia sekaligus bisa kau renggut. Dunia yang fana ini, jadikan ia ladang menandur benih kebaikan, supaya kelak kita memanen berlipat kebajikan yang telah kita tanam di akhirat.
