Bernas.id – “Metode belajar yang efektif seperti apa sih, Pak? Agar saya bisa memahami materi perkuliahan dan lama hilangnya.” Pertanyaan seperti ini banyak diajukan kepada para dosen, saat kegiatan sesi coaching dan consulting dengan mahasiswa. Pada sisi lain, keluhan dosen sering terlontar dikarenakan mahasiswanya tidak paham-paham atas apa yang dosen jelaskan.
Kedua sisi keluhan yang berbeda tersebut, saya mencoba mengkaitkan dengan piramida pembelajaran yang dirilis oleh National Training Laboratories Bethel yang merupakan hasil pengembangan piramida pembelajaran yang dirilis pertama kali oleh Edgar Dale.
Piramida pembelajaran tersebut dapat menjawab apa yang menjadi kesulitan bagi mahasiswa dan dosen. Berawal saat pen-delivery-an materi perkuliahan dari dosen kepada mahasiswa atau guru kepada siswa maka konsep piramida ini sudah diimplmentasikan.
Hal ini juga didukung M. Nuh pada acara peresmian ?Kurikulum 2013? saat beliau memangku sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 5 Agustus 2014. Beliau menyampaikan bahwa piramida pembelajaran sebagai konsep Kurtilas (kurikulum 2013) sangat cocok untuk mengukur berapa besar daya serap pembelajaran yang diterima oleh siswa.
Secara garis besar piramida pembelajaran menjelaskan daya serap penerima pengajaran adalah sebagai berikut:
1. Melalui penjelasan atau mendengar di kelas dan bersifat satu arah maka daya serap penerimaan materi perkuliahan atau pelajaran sebesar 5 % (lecture);
2. Membaca buku materi perkuliahan atau pelajaran maka daya serap yang akan diterima adalah 10% (reading);
3. Belajar audio visual dua dimensi seperti foto, lukisan ataupun video, maka daya serap pembelajaran yang akan diterima sebanyak 20% (audio/visual);
4. Peserta mendemontrasikan atau membuat percontohan suatu materi perkuliahan atau pelajaran, maka daya serap siswa dapat mencapai 30% (demonstration);
5. Belajar berkelompok dan berdiskusi secara aktif, maka peserta pembelajaran akan memahami materi yang dipelajarinya hingga tingkat 50% (discussion group);
6. Mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang sudah dipelajarinya, maka akan meningkatkan daya serap penerimaan menjadi 75% (practice by doing);
7. Selanjutnya tingkat yang paling tinggi daya serapnya apabila siswa melakukan tahap sebelumnya dan juga memberikan pengajaran kepada rekannya. Maka daya serapnya menjadi 90% (teach others).
Dengan mengetahui tingkat pembelajaran dalam rangka pemahaman mahasiswa atau siswa, maka dosen atau guru harus berusaha keras untuk membuat materi yang sesederhana mungkin namun dapat dipahami dengan tingkat yang optimal.
Selain itu, mahasiswa atau siswa diminta untuk melakukan diskusi secara berkelompok atas materi yang sudah disampaikan oleh dosen ataupun guru. Dengan demikian tingkat pemahamannya akan lebih meningkat.
Khusus untuk materi yang besifat komprehensif, misal untuk materi pelajaran ?Pemasaran?, siswa diperintahkan untuk melakukan proyek menjual suatu barang dalam jangka waktu tertentu dan harus menghasilkan keuntungan senilai sekian rupiah. Gunakan seluruh cara konsep pemasaran agar target keuntungan tercapai. Setiap kegiatan yang dilakukan harus dibuat pelaporan. Apabila hal ini dijalankan, maka setiap peserta akan merasakan atmosfir atas teori yang dipelajarinya. Apakah sesuai atau tidak dengan apa yang direalisasikannya.
Akhir kata, bagi dosen atau guru silakan untuk berusaha agar daya serap muridnya memperolah hasil yang optimal. Berusahalah!
