Bernas.id- Setiap hari kita senantiasa melakukan interaksi sosial yang memerlukan kata-kata dan pembicaraan. Bahkan, untuk orang yang pendiam saja memiliki kebutuhan untuk berbicara. Namun, itu semua tetap ada batasnya agar tidak berlebihan.
Setiap hari kita terlibat dalam pembicaraan dan perbincangan dengan berbagai jenis manusia dan komunitas. Di sinilah letak perlunya kita mengetahui bahaya yang muncul akibat perkataan yang berlebihan.
Memang lidah tak bertulang tak terbatas kata-kata, lirik lagu yang satu ini sudah tidak asing lagi kita dengar. Lidah termasuk nikmat Allah swt yang terbesar dan merupakan salah satu dari sekian keindahan yang terunik. Berukuran kecil, tetapi memiliki peran yang besar dalam melaksanakan ketaatan dan mengerjakan dosa. Bahkan, kekufuran dan keimanan belum menjadi sesuatu yang nyata, jika lidah belum mengucapkan kesaksian.
Barang siapa yang melepaskan manisnya lidah dan membiarkannya terlepas, maka setan akan memanfaatkan lidah itu pada setiap lapangan dan akan mengantarkannya ke tepi jurang kehancuran.
Disebutkan dalam hadits Mu?adz r.a., Nabi saw bersabda, ?Tidaklah manusia itu wajahnya dipanaskan dengan api neraka, melainkan karena akibat dari lidahnya (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)
Berdasarkan hadits tersebut menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama manusia masuk neraka adalah ucapan lisan. Seseorang yang menanam kebaikan baik berupa perkataan dan perbuatan, maka ia akan menuai kemuliaan. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang menanam kejahatan melalui perkataan dan perbuatannya, maka ia akan menuai penyesalan.
Banyak sekali ucapan yang dapat menyesatkan manusia. Antara lain orang yang berucap atas nama Allah tapi tidak dibarengi dengan ilmu, kesaksian palsu, menuduh orang baik berbuat zina, dusta, ghibah (ngerumpi) dan adu domba.
Nabi saw bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah)
Keutamaan diam itu sangat besar karena pada sikap diam itu tersimpan banyak hal positif. Dengan diam, kita dapat berdzikir, berpikir, juga beribadah kepada Allah swt. Ketika kita ingin berbicara, sebaiknya dipikirkan terlebih dulu apa yang akan diucapkan. Jika perkataan itu membawa kepada kebaikan, maka silakan berbicara. Jika tidak membawa manfaat kebaikan, lebih baik tahanlah untuk mengucapkannya.
Allah swt. berfirman,”Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)
Jadi sangatlah jelas, tidak ada satupun kata yang kita ucapkan luput dari catatan Allah. Baik perkataan yang mengandung mudharat maupun perkataan yang mengandung manfaat. Alangkah baiknya jika kita menjaga apa yang akan kita ucapkan. Lebih baik kita berbicara lebih banyak yang mengadung manfaat daripada yang mengandung mudharat karena perkataan yang mengandung mudharat hanya akan menambah kesia-siaan saja.
