Bernas.id ? Sehabis hujan terbitlah pelangi. Larangan burkini yang ditetapkan oleh Perancis ternyata membawa berkah lain. Menurut pengakuan desainer burkini Aheda Zanetti, angka penjualan burkini malah meningkat pasca keluarnya larangan memakai burkini oleh sejumlah kota di Perancis.
Sejak bulan Agustus tahun lalu, kota-kota di Perancis melarang penggunaan burkini. Alasannya pakaian renang yang didesain untuk menutupi aurat wanita Muslim tersebut bertentangan dengan undang-undang sekulerisme Perancis.
Menurut Zanetti yang selama lebih dari 40 tahun terakhir tinggal di Australia, larangan tersebut justru malah berdampak positif pada angka penjualan burkini ciptaannya. Pada awalnya Zanetti hanya bisa menjual burkini rata-rata sebanyak 200 setel per bulan.
Namun pasca beredarnya larangan tersebut, angka penjualan burkini per bulannya malah melonjak hingga 2.000 setel per bulannya. Sebagian besar pemesan datang dari Eropa. Sebanyak 40 persen pembeli burkini diketahui berasal dari golongan non-Muslim. Alasan mereka membeli burkini adalah karena mereka menginginkan perlindungan lebih atas kulitnya.
Zanetti pertama kali menciptakan burkini pada tahun 2004 supaya kaum Muslimah bisa tetap beraktivitas di pantai dan kolam renang umum tanpa khawatir harus memperlihatkan auratnya. Desainer berdarah Lebanon ini juga mendesain burkini supaya bisa digunakan untuk aktivitas olah raga di luar ruangan.
