Bernas.id ? Pemilu presiden AS memang sudah lama berlalu. Namun efek dominonya masih terasa hingga sekarang. Badan intelijen CIA melaporkan kalau selama masa kampanye pilpres, tim peretas asal Rusia melakukan serangan kepada situs-situs yang berbasis di AS untuk menyetir opini publik dan mempengaruhi hasil pemilu.
Langkah tegas pun turut diambil oleh Twitter untuk menyikapi insiden tersebut. Lewat situs resminya, Twitter mengumumkan kalau jejaring sosial yang berbasis di San Fransisco tersebut bakal menolak setiap iklan yang berasal dari akun Russia Today (RT) dan Sputnik News. Keduanya adalah badan media yang berbasis di Rusia.
Menurut pihak Twitter, keputusan ini diambil setelah penyelidikan yang dilakukannya bersama dengan badan intelijen AS menemukan kalau kedua media tadi ikut campur dalam pemilu AS untuk kepentingan pemerintah Rusia. Sebulan sebelumnya, Twitter juga sudah menutup 201 akun yang memiliki kaitan dengan Rusia.
Keputusan Twitter tersebut jelas tidak disukai oleh kedua media tadi. Sputnik News menyatakan kalau keputusan Twitter sebagai hal yang patut disesalkan. RT juga turut memberikan pernyataan senada sambil mengklaim kalau pihaknya tidak pernah terlibat dalam aktivitas ilegal di dunia maya, termasuk memanipulasi jalannya pemilu.
Pemerintah Rusia tidak mau ketinggalan menanggapi insiden ini. Juru bicara Kemenlu Rusia Maria Zakharova menulis di akun Facebook-nya kalau keputusan Twitter tersebut adalah bentuk pelanggaran terhadap kebebasan berpendapat. Ia lantas memperingatkan akan kemungkinan terjadinya tindakan balasan di masa depan.
