Bernas.Id – Ucapan yang sama tapi diucapkan oleh orang yang berbeda akan mempunyai makna yang berbeda pula. Itulah konten dan konteks. Saat kita melihat sesuatu hanya dari kontennya saja maka akan muncul perbedaan persepsi dengan orang lain.
Komika saat menjelek-jelekan dirinya saat sedang acara stand up comedy dan ditertawakan oleh penonton yang hadir, ia akan senang karena leluconnya lucu dan berhasil mengundang tawa. Tapi kalau yang sedang menjelek-jelekan dirinya bukan seorang komika dan bukan di acara stand up comedy, pasti dianggap orang tersebut sedang galau, stres atau putus asa yang mengundang rasa iba yang mendengarnya.
Komika menghina orang lain saat sedang tampil, dianggap lucu dan orang yang dihina juga tidak marah. Tapi coba kalau menghina diformat acara yang berbeda, forum diskusi misalnya atau wawancara, pasti dianggap pencemaran nama baik dan bisa dilaporkan ke pihak berwajib untuk diperkarakan.
Sekarang sedang viral kata 'pribumi' yang diucapkan oleh Pak Anies dalam sambutannya saat pelantikannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Banyak yang memaknainya dengan berbagai macam sudut pandang. Itu bisa terjadi karena melihatnya dari kontennya saja sementara konteksnya diabaikan.
Konteksnya adalah era kolonial, saat itu masyarakat terbagi menjadi dua yaitu penjajah dan yang dijajah. Penjajah disebutnya kaum kolonial dan yang dijajah disebutnya kaum pribumi.
Dulu, para pejuang berjuang mengusir orang asing dari bumi Indonesia. Sekarang, kita mempromosikan Indonesia agar orang asing berbondong-bondong datang kemari. Kontennya sama-sama orang asing, tapi konteksnya berbeda yaitu zaman yang berbeda dan tujuan yang berbeda. Dulu, Indonesia dijajah oleh orang asing makanya diusir, sekarang orang asing datang menghasilkan devisa buat negara di bidang pariwisata, makanya diundang.
Era masyarakat sekarang, kata-kata pribumi dan non pribumi identik dengan golongan mayoritas dan minoritas, baik dari sisi kesukuan maupun agama, sehingga menjadi sensitif jika kata-kata itu diucapkan oleh orang yang mewakili golongan mayoritas.
Jika Pak Anies dilaporkan karena penggunaan kata 'pribumi' maka akan ada 133.000 orang lebih yang akan dilaporkan lagi karena menggunakan kata tersebut dalam cuitan mereka di akun twitter dan facebook. Itu jika dilihat dari sisi kontennya saja, sama-sama menggunakan kata 'pribumi'. Padahal, secara konteksnya berbeda.
Bijak-bijaklah dalam memaknai sebuah kata atau kalimat yang keluar dari mulut seseorang atau yang tertulis entah itu di media sosial atau di koran. Kita harus pandai memilah mana yang konten dan mana yang konteks, sehingga tidak terjebak oleh hasutan orang lain yang memiliki kepentingan tersendiri.
