Bernas.id ? Myanmar kini tengah menjadi sorotan dunia internasional. Munculnya krisis pengungsi etnis Rohingya dari negara tersebut menjadi penyebabnya. Tuduhan kalau aparat Myanmar tengah melakukan penindasan kepada golongan minoritas pun menyeruak. Kebetulan Myanmar merupakan negara berpenduduk mayoritas Buddha, sementara Rohingya umumnya menganut agama Islam.
Namun tuduhan itu coba ditepis oleh pemerintah Myanmar. Pada hari Selasa (10/10/2017), sebanyak 30 ribu orang dari beragam agama melakukan doa bersama di stadion kota Yangoon. Massa yang berasal dari agama Buddha, Islam, Hindu, dan Kristen tersebut melakukan doa bersama supaya kondisi di negara bagian Rakhine segera kondusif.
?Ini adalah upacara untuk menunjukkan kepada dunia kalau rakyat dari beragam agama di negara kami saling bersahabat dan mencintai satu sama lain,? kata politikus Win Maung yang membantu penyelenggaraan acara doa bersama ini. ?Kami merasa sangat menyesal terhadap munculnya reaksi dari dunia internasional terkait beredarnya pemberitaan yang tidak benar.?
Dalam acara doa bersama ini, pemuka agama setempat juga menunjukkan pembelaannya kepada Aung San Suu Kyi. Pemimpin Myanmar tersebut dikecam oleh masyarakat internasional karena terkesan melakukan pembiaran terhadap krisis Rohingya kendati dirinya pernah menerima Nobel Perdamaian di masa silam.
?Dia tidak pernah meminta diberikan Penghargaan Nobel Perdamaian,? kata kardinal Katolik Charles Maung Bo. ?Sekarang dunia melihat Myanmar sebagai negara yang tidak punya hati. Namun sebenarnya agama yang dianut masyarakat Myanmar menekankan perasaan dan simpati.?
Myanmar merupakan negara yang ditempati oleh lebih dari 100 etnis dengan Rohingya sebagai salah satunya. Namun pemerintah Myanmar enggan mengakui Rohingya tersebut sebagai warga negara Myanmar. Menurut pemerintah Myanmar, Rohingya aslinya adalah warga Bangladesh yang menyeberang secara ilegal ke wilayah Myanmar barat.
Krisis yang terjadi di negara bagian Rakhine belakangan ini bermula pada akhir Agustus lalu ketika pos-pos militer Myanmar diserang oleh anggota militan Rohingya. Aparat Myanmar kemudian membalasnya dengan cara melakukan operasi militer dan memaksa ratusan ribu warga Rohingya setempat melarikan diri keluar negeri.
