HarianBernas.com ? Skandal kekerasan di institusi pendidikan bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Inggris, sebanyak 17 instruktur militer di Army Foundation College terancam menerima hukuman akibat melakukan tindak kekerasan kepada anak didiknya.
Insiden kekerasan tersebut terjadi pada tahun 2014 lalu di kamp militer Kirkcudbright, Skotlandia. Saat itu ada sekitar 200 calon prajurit yang mengikuti pelatihan. Menurut pengakuan para korban yang saat itu baru berusia 17 tahun, mereka ditendang dan dipukuli oleh para instrukturnya.
Korban kemudian menambahkan kalau para instruktur menginjak kepala mereka saat mereka sedang terjerembab di dalam sungai. Dalam peristiwa lain, para instruktur juga mengambil kotoran sapi serta domba dan memaksa anak didiknya untuk memakannya.
Beberapa pekan seusai terjadinya peristiwa tersebut, korban yang berjumlah 6 orang kemudian melaporkan kelakuan para instrukturnya. Penyelidikan yang berlangsung selama tiga tahun pun dilakukan oleh militer Inggris. Jika terbukti bersalah, para pelaku bisa dijatuhi hukuman penjara.
Para instruktur yang dituduh melakukan penganiayaan tersebut diketahui berstatus sebagai veteran perang di Irak dan Afganistan. Rencananya pada bulan September mendatang, mereka akan menjalani sidang di pengadilan militer Bulford.
Insiden tersebut tak pelak mengusik perhatian sesama anggota militer Inggris. Menurut Kolonel Richard Kemp yang pernah bertugas di Afganistan, ia mengaku baru kali ini menjumpai kasus penganiayaan sebesar ini di militer negaranya sendiri. Kemp lantas menegaskan bahwa kendati calon prajurit memang harus dididik dengan keras, tetap ada batasan mengenai tindakan fisik yang bisa diambil.
