HarianBernas.com ? Jepang dikenal sebagai tempatnya kaum pekerja keras. Saking tingginya standar yang ditetapkan oleh lembaga dan perusahaan setempat, tidak sedikit kaum pekerja di Jepang yang harus bekerja hingga belasan jam per harinya. Fenomena tersebut bukan hanya dialami oleh pekerja kantoran, tetapi juga oleh para supir.
Berdasarkan hasil survei yang dimuat oleh The Japan Times, sekitar 20 persen supir bus di Jepang bekerja hingga 13 jam per harinya. Sebagai akibatnya, mereka pun hanya memiliki waktu istirahat yang terbatas.
Sebanyak 63,7 persen supir yang disurvei mengaku kalau mereka hanya tidur 7 jam per harinya. Sementara sebanyak hampir 25 persen bahkan mengaku kalau setiap harinya mereka hanya tidur kurang dari 5 jam. Hal ini dalam jangka panjang jelas berbahaya bagi kesehatan supir dan keselamatan penumpang bus mereka.
Tahun lalu, kecelakaan bus fatal terjadi di Karuizawa, Prefektur Nagano. Peristiwa tersebut lantas mendorong pemerintah Jepang untuk melakukan penelitian terhadap kondisi supir bus di lapangan. Survei ini pun digelar melalui serikat pekerja pada bulan Maret hingga Mei.
Ada 7.083 supir yang dilibatkan dalam survei ini. Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan 5 persen dari jumlah keseluruhan supir bus di Jepang. Salah seorang staf kementerian lantas berujar kalau pihaknya ingin ada perbaikan terhadap lingkungan pekerjaan para supir bus.
