HarianBernas.com ? Soweto adalah nama dari sebuah desa yang terletak di negara Namibia. Kehidupan sehari-hari warga desa ini sungguh mengenaskan. Bagaimana tidak, warga desa ini setiap harinya harus hidup dengan pasokan air bersih yang sangat terbatas.
Satu-satunya sumber air yang dapat digunakan oleh warga desa ini hanyalah dua buah toilet umum. Selain digunakan untuk mandi dan buang air, dengan toilet ini pulalah warga desa mendapatkan air bersih yang diperlukannya. Namun kondisi toilet umum ini sendiri sangatlah memprihatinkan.
Karena dipakai secara beramai-ramai dan kurang terurus, toilet ini dipenuhi oleh tinja dan sampah yang berceceran. Saking parahnya kondisi kebersihan di toilet tersebut, salah satu bilik toilet bahkan sudah tidak bisa lagi digunakan akibat tersumbat sampah.
?Kami muak dan capek hidup dalam kondisi seperti ini. Pemerintah daerah sudah melupakan kami. Kenapa mereka tidak memasang keran umum saja supaya warga bisa mendapatkan air di lingkungan yang bersih?? kecam salah seorang warga yang bernama Lazarus Vanyenga. Kepada wartawan The Namibian, ia bahkan mengaku sudah mengalami kondisi seperti ini selama 20 tahun.
?Anak-anak rentan terpapar oleh hal-hal yang berbau dewasa. Mereka bisa melihat seorang pria telanjang bulat dan tidak ada yang bisa dilakukan orang-orang karena membutuhkan airnya. Bayangkan seorang wanita datang pada malam hari untuk mengambil air, dan pria yang sedang mandi di dalamnya harus memberikan air. Sungguh, hal ini sangat beresiko,? tambah Vanyenga.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh wartawan The Namibian di lokasi, anak-anak yang sedang menunggu giliran untuk mengisi ember memang bisa melihat pria di dalam toilet membasuh dirinya dalam kondisi tanpa busana. Namun mereka sendiri mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. ?Saya melihat mereka (telanjang) setiap hari. Buat saya, itu bukanlah masalah,? kata salah seorang anak.
Pemkot Soweto sendiri bukannya tidak sadar akan kondisi tersebut. Menurut walikota Christofina Kasilingwa, sebenarnya sudah ada pipa yang menyalurkan air bersih ke rumah masing-masing warga. Namun Kasilingwa mengklaim kalau warga lebih memilih untuk menggunakan air di toilet umum karena mereka enggan membayar iuran air bersih.
