HarianBernas.com ? Tikus di mana-mana hampir selalu dianggap sebagai gangguan. Pasalnya hewan yang satu ini gemar menggerogoti benda-benda dan bahkan hewan peliharaan manusia. Kasus serupa juga berlaku di Selandia Baru. Bukan hanya manusia yang menderita akibat ulah tikus. Fauna liar setempat pun turut merasakan dampak negatif dari mewabahnya tikus.
Selandia Baru secara geografis terpisah dari benua-benua lainnya. Hal tersebut menyebabkan hewan-hewan unggas setempat bisa hidup aman tanpa gangguan dari predator yang lazimnya ditemukan di benua lain. Namun segalanya berubah ketika bangsa Eropa menginjakkan kakinya di Selandia Baru. Saat kapal mereka berlabuh di sana, tanpa sengaja tikus-tikus dari negara asal mereka ikut terbawa dan kemudian menyelinap masuk ke Selandia Baru.
Fauna unggas Selandia Baru lantas terkena getahnya karena telur dan bayi mereka menjadi mangsa dari tamu tak diundang tersebut. Namun tikus bukanlah satu-satunya masalah bagi burung-burung di Selandia Baru. Mereka juga terancam oleh keberadaan possum, sejenis hewan mamalia mirip musang.
Tidak seperti tikus, possum yang masuk ke Selandia Baru sengaja dibawa oleh manusia untuk diambil bulunya dan dijadikan pembasmi hama kelinci. Namun ketika possum-possum tadi lepas ke alam liar dan berkembang biak, lagi-lagi burung liar Selandia Baru yang harus terkena dampaknya.
Rencana ambisius pun dibuat oleh pemerintah Selandia Baru untuk memastikan agar kiwi dan burung-burung khas Selandia Baru lainnya tidak punah. Sejak sembilan bulan lalu, pemerintah Selandia Baru memasang target kalau pada tahun 2050, seluruh tikus dan possum yang ada di negara tersebut harus sudah lenyap sepenuhnya.
Namun sambutan yang didapat dari rencana tersebut ternyata tidak sepenuhnya hangat. Menurut Wayne Linklater dari Universitas Victoria Wellington, rencana tersebut tidak ada bedanya dengan ?fantasi fiksi ilmiah?.
Pasalnya berdasarkan kalkulasi tahun 2009 saja, jumlah possum yang ada di Selandia Baru dilaporkan mencapai 30 juta ekor. Tidak diketahui jumlah tikus yang ada di Selandia Baru. Namun jumlahnya diperkirakan sangatlah tinggi karena tikus sangat mudah berkembang biak dan beradaptasi.
Namun tidak semua penduduk Selandia Baru memandang rencana tersebut secara skeptis. Paul Ward adalah salah satunya. Menurut pria yang bekerja sambilan sebagai relawan pemasang perangkap tikus tersebut, pemberantasan tikus haruslah dilakukan untuk menjaga kelestarian burung-burung khas Selandia Baru. ?Ini adalah tentang menjaga identitas kita seperti halnya menjaga burung-burung kita,? tandasnya seperti yang dikutip oleh National Post.
