HarianBernas.com ? Microsoft akhirnya angkat bicara mengenai fenomena serangan WannaCry di seluruh dunia. Lewat artikel di blog resminya, Microsoft menganggap kalau serangan WannaCry ini adalah ?panggilan untuk segera bangun?. Microsoft dalam artikel yang sama juga memaparkan kalau aksi organisasi kriminal dan aksi yang disponsori negara adalah dua ancaman utama dalam keamanan dunia virtual.
Dalam artikel yang ditulis oleh kepala urusan hukum Microsoft tersebut, Microsoft menyalahkan pemerintah AS yang menyimpan senjata virtual berbahaya kendati sudah pernah kecolongan sebelumnya. Microsoft lantas mengambil contoh kasus bocornya dokumen-dokumen rahasia milik AS oleh WikiLeaks.
Microsoft juga membuat perumpamaan mengenai bagaimana jadinya jika senjata macam Tomahawk sampai tercuri dan digunakan oleh pihak yang salah. Mereka lantas meminta kepada pemimpin di seluruh unia untuk mengambil pendekatan berbeda dan mulai memperlakukan dunia maya layaknya dunia nyata yang dipenuhi oleh senjata berbahaya.
Microsoft sebenarnya sudah sejak lama mendeteksi keberadaan WannaCry dan merilis pembaruan untuk sistem-sistem operasinya sejak bulan Maret lalu. Namun tidak semua pengguna Windows mengunduh pembaruan tersebut sehingga komputer-komputer yang sistem operasinya belum diperbarui menjadi sasaran empuk dari ransomware tersebut.
Sejak hari Jumat lalu, lebih dari 200 ribu komputer yang tersebar di 150 negara menjadi korban serangan WannaCry. Jaringan bank, rumah sakit, dan lembaga-lembaga lainnya yang tersebar di seluruh dunia lumpuh akibat ransomware ini. Untuk melindungi pengguna Windows lainnya yang belum terinfeksi, Microsoft pun merilis patch atau aplikasi pembaruan darurat untuk menambal celah yang digunakan oleh WannaCry untuk menginfeksi komputer korbannya.
