HarianBernas.com ? Demonstrasi menuntut lengsernya presiden Brazil terus belanjut. Puluhan ribu orang mengikuti demonstrasi di ibukota Brasilia pada hari Rabu (24/5/2017) waktu setempat untuk meminta Michael Temer segera turun dari jabatannya. Situasi kian parah ketika para demonstran tersebut membakar gedung Kementerian Pertanian dan mencoret-coreti dinding bangunan milik pemerintah dengan slogan anti-Temer.
Polisi mencoba membubarkan paksa demonstran dengan cara menembakkan gas air mata dan peluru karet. Namun para demonstran tadi tidak mau kalah. Mereka melawan balik dengan cara menembakkan kembang api dan bahan peledak ke arah polisi. Satu orang demonstran bahkan kehilangan jarinya ketika mencoba melemparkan bahan peledak.
Menurut pemerintah kota Brasilia, setidaknya ada 49 orang yang terluka dalam kerusuhan ini. Demonstrasi ini sekaligus menjadi demonstrasi paling rusuh yang pernah terjadi di kota Brasilia sejak tahun 2013.
Melihat polisi yang semakin kewalahan dengan tindak tanduk para demonstran, Temer pun memutuskan untuk beralih ke jalur militer. Ia memerintahkan penerjunan tentara ke jalanan kota Brasilia hingga situasi kembali kondusif. Personil militer Brazil yang diterjunkan di ibukota nantinya juga bakal memiliki hak untuk melakukan penahanan.
Namun tindakan Temer tersebut menuai kritikan dari pihak oposisi. Mereka khawatir kalau tindakan yang diambil Temer bakal menjadi pintu gerbang kembalinya Brazil di bawah kediktatoran militer. Kebetulan antara tahun 1964 hingga 1985, Brazil memang pernah berada di bawah rezim militer.
Aksi protes menuntut lengsernya Temer merupakan tindak lanjut dari skandal yang menimpa dirinya. Pertengahan Mei ini, beredar rekaman suara yang menunjukkan kalau Temer menyogok Eduardo Cunha supaya tutup mulut. Eduardo Cunha adalah bekas juru bicara parlemen yang sekarang tengah meringkuk di balik jeruji besi akibat terlibat dalam skandal perusahaan minyak nasional Petrobras.
