HarianBernas.com – Nasib malang harus dialami oleh Min Bahadur Sherchan. Pria berusia 85 tahun tersebut nekat mendaki Gunung Everest karena ingin memecahkan rekor sebagai pendaki gunung tertua yang berhasil mencapai puncak tertinggi dunia tersebut. Padahal kondisi di ketinggian Gunung Everest bukanlah kondisi yang ideal untuk lansia akibat kadar oksigennya yang rendah dan seringnya badai salju menerpa.
Kelanjutan dari nasib Shechan pun sudah bisa ditebak. Ia meninggal pada hari Sabtu malam (6/4/2017) waktu setempat ketika sedang menginap di kamp pendakian Everest. Jasadnya diterbangkan ke Kathmandu dan dimakamkan di hari berikutnya. Kain ornamental berwarna kuning dan bendera Nepal terlihat menyelimuti peti jenazahnya ketika prosesi pemakaman dilakukan.
Pendakian ini sendiri sebenarnya bukanlah pendakian pertama yang dilakukan oleh Sherchan. Ia sempat mencapai puncak Everest pada tahun 2008 silam sekaligus memastikan diri sebagai pendaki gunung tertua yang pernah mencapai Everest dalam usia 76 tahun. Namun rekor tersebut kemudian dipatahkan pada tahun 2013 oleh pendaki berusia 80 tahun yang bernama Yuichiro Miura.
Kasus kematian yang menimpa Sherchan ini turut menyita perhatian pemerintah Nepal. Kepala Departemen Pariwisata Dinesh Bhattarai menyatakan kalau pihaknya mempertimbangkan batasan usia maksimum bagi mereka yang hendak mendaki Gunung Everest. Mereka berniat menetapkan usia 76 tahu sebagai usia maksimal bagi pendaki Gunung Everest.
Selama ini tidak ada batasan usia maksimum bagi mereka yang hendak mendaki Gunung Everest. Satu-satunya batasan dalam hal usia adalah para pendaki harus berusia minimal 16 tahun. Sejak tahun 1953, lebih dari 4 ribu orang sudah berhasil mencapai puncak Gunung Everest. Namun di balik pencapaian mengesankan tersebut, ratusan orang juga kehilangan nyawanya di gunung tersebut.
