HarianBernas.com ? Pilpres putaran kedua Prancis yang baru selesai digelar, belum lama ini menyisakan banyak cerita menarik di baliknya. Salah satunya adalah mengenai pemilih dalam pilpres itu sendiri. NBC News memberitakan kalau sebanyak 4 juta surat suara dibiarkan kosong atau dirusak dengan sengaja oleh para pemilih. Sementara 12 juta pemilih terdaftar lainnya memilih untuk tidak datang ke tempat pemungutan suara.
Jumlah tersebut sekaligus menjadikan pilpres Prancis kali ini sebagai pemilu dengan tingkat golput tertinggi sejak tahun 1969. Jika dikombinasikan dengan total jumlah pemilih dalam pilpres Perancis itu sendiri, 1 dari 3 pemilih Prancis yang cukup umur tidak ikut berpartisipasi dalam pilpres kali ini.
Menurut pengamat politik, Marta Lorimer dari institut yang berbasis di London, fenomena ini terjadi karena mereka merasa tidak ada kandidat yang bisa mewakili pandangannya. Ia menambahkan kalau dalam pilpres putaran kedua ini, tokoh-tokoh yang menjadi kandidat mewakili haluan politik yang saling bertolak belakang.
Jika Marine Len merupakan tokoh yang mewakili golongan kanan jauh lewat kebijakan anti imigrannya maka Emmanuel Macron dianggap sebagai muka baru yang gaya pemerintahannya tidak berbeda jauh dengan Presiden Francois Hollande. ?Ini bukanlah cerita mengenai bangkit dan ambruknya populisme seperti yang dikatakan banyak orang. Apa yang kita lihat di sini adalah terpecahnya Prancis secara total,? paparnya.
Pendapat serupa juga diutarakan oleh Joseph Downing dari pusat penelitian di Marseille. ?Mereka (para pemilih) terjebak di suatu tempat di mana tak seorangpun mewakili pandangan mereka. Mereka tidak mau melihat berlanjutnya kebijakan-kebijakan neoliberal. Namun, di saat yang bersamaan mereka bukanlah pendukung aliran kanan jauh. Mereka bukan xenofobik (pembenci orang asing), proteksionis (penentang praktik impor berlebihan), atau nasionalis,? jelas Downing.
