HarianBernas.com – Memiliki gelar tambahan di depan atau di belakang nama bukanlah hal yang aneh. Lazimnya seseorang memiliki gelar tambahan jika sudah mengenyam pendidikan hingga strata tertentu. Untuk kalangan bangsawan atau penguasa semisal raja, nama gelar juga digunakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus untuk menunjukkan statusnya di negara yang dipimpinnya.
Tajikistan merupakan negara di Asia Tengah yang memiliki bentuk pemerintah republik. Terhitung sejak akhir April lalu, presiden Tajikistan memiliki nama gelar baru yang harus dibacakan secara lengkap oleh pembawa acara di stasiun berita nasional. Hal tersebut mungkin tidak terlalu memusingkan jika sang presiden hanya memiliki nama gelar yang singkat.
Permasalahannya adalah Presiden Emomali Rahmon memiliki nama gelar yang sangat panjang dan harus dibacakan secara lengkap setiap kali sang pembawa acara hendak menyebut nama sang presiden. Nama gelar yang dimiliki Rahmon tersebut adalah ?Sang Pendiri Perdamaian dan Persatuan Nasional, Pemimpin Negara, Presiden Republik Tajikistan, Yang Mulia Emomali Rahmon?.
Karena nama gelarnya begitu panjang, maka jela membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk membacakan namanya secara lengkap. Dalam cuplikan acara berita di Tajik TV, sang pembawa acara terlihat membutuhkan waktu sekitar 15 detik untuk membacakan nama gelarnya dalam bahasa lokal secara lengkap.
Tindakan Rahmon yang menggunakan nama gelar yang begitu panjang tersebut lantas menjadi bahan olok-olok netizen Tajikistan di media sosial. Sejumlah netizen menyindir kalau sebaiknya Rahmon menggunakan gelar tambahan seperti ?pencipta alam semesta? atau ?manusia yang tiba di Bulan?. Netizen lain mengkritik kalau Rahmon baru berhak menggunakan gelar macam itu jika dia sudah bisa memperbaiki taraf hidup rakyatnya.
