HarianBernas.com – Satu lagi hasil penemuan terbaru mengenai pemanasan global dirilis oleh ilmuwan. Data terbaru NASA menunjukkan kalau bulan Maret lalu merupakan bulan Maret terpanas kedua selama hampir dua abad terakhir. Anomali atau selisih penyimpangan suhu permukaan bumi pada bulan Maret tahun ini mencapai 1,12oC lebih tinggi daripada suhu rata-rata permukaan bumi pada tahun 1950 hingga 1980.
Anomali suhu itu sendiri sebenarnya masih belum setinggi anomali suhu pada bulan Maret di tahun 2016 yang mencapai 1,27oC lebih. Selain akibat pemanasan global yang ditimbulkan oleh akumulasi gas rumah kaca, tingginya anomali suhu pada bulan Maret tahun lalu juga disebabkan oleh fenomena El Nino yang menimbulkan kekeringan di sejumlah tempat di Asia.
Sejak terjadinya Revolusi Industri dua abad silam, level karbon dioksida dari yang awalnya 280 juta ppm menjadi lebih dari 400 juta ppm. Jumlah tersebut diprediksi bakal menyentuh angka 410 juta ppm hanya dalam kurun waktu beberapa pekan ke depan.
Banyaknya gas karbon yang dilepaskan oleh mesin-mesin yang dioperasikan manusia menjadi penyebab utamanya. Di sisi lain, hutan yang sebenarnya bisa membantu menyerap karbon pada siang hari luasnya kian menyempit akibat penebangan liar dan peralihan fungsi menjadi lahan tinggal manusia.
Lembaga kelautan NOAA secara terpisah memaparkan kalau dari 17 rekor suhu global tertinggi yang pernah tercatat, 16 di antaranya terjadi pada abad ke-21. Lima di antaranya bahkan terjadi sesudah tahun 2010. Jika tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengurangi jumlah gas karbon dioksida yang terlepas ke atmosfer, jumlahnya diperkirakan bakal sampai hingga level yang belum pernah terjadi selama 50 juta tahun terakhir.
