KEBUMEN,HarianBernas.com ? Problem paling berat untuk meningkatkan penghasilan petani tanaman pangan, ada pada skala usaha yang kurang ideal. Tingkat skala usaha petani tanaman pangan yang didasarkan luas lahan usaha yang digarap terus menurun.
Di tingkat nasional, rata ? rata lahan usaha tanaman pangan bisa sampai 1 hektar. Di Kabupaten Kebumen jauh dari itu. Dari lahan usaha hanya 39.748 hektar digarap 264.251 orang petani.
Masalah itu mengemuka pada seminar ?Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan dan Sosialisasi produk industri Jasa Keuangan perbankan untuk petani dan nelayan di Kebumen Selasa (14/3).
Acara yang diselenggarakan DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kebumen, dengan narasumber anggota Komisi XI DPR /Ketua Umum DPP PPP Ir Romahurmuzhy, Kepala Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan Purwokerto Farid Faletehan dan Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kebumen Ir Puji Rahayu
Romahurmuhzy mengatakan, skala usaha ekonomi sektor pertanian tanaman pangan, khususnya padi, paling sedikit memiliki lahan usaha 2 hektar Di Indonesia, khususnya di Jawa sulit menemukan petani dengan lahan usaha seluas itu. Untuk menambah penghasilan petani, pemerintah berupaya menekan biaya produksi.
Upaya melindungi sektor pertanian, antara lain memberi subsidi harga pupuk, memberi bantuan alat intensifikasi pertainan, serta memberi subsisi premi asuransi pertanian.
Upaya memperluas lahan usaha dan pertanian kepada petani, juga sulit terwujud, karena tidak sejengkal tanah di negeri ini tidak ada pemiliknya. Petani diminta mengubah cara penjualan langsung beras kepada konsumen, dengan cara mengemas lebih baik. Sehingga harga jualnya lebih tinggi serta mengolah hasil pertanian, agar nilai jualnya lebih tinggi, misalnya ketela dibuat bahan pangan tertentu.
Menurut Bupati Kebumen HM Yahya Fuad, pendapatan petani tanaman pangan sulit untuk naik.Nilai jual produksi tanaman pangan hanya 108 persen. Ini artinya, harga jual produk pertanian, hanya kembali modal. Perlu ada kepedulian berbagai pihak, termasuk kalangan perbankan. “Jangan sampai ada untuk mendapatkan modal usaha petani memanfaatkan rentenir, ? kata Yahya Fuad dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten II Sekda Kebumen Ir Tri Haryono.
Masalah asuransi untuk tanaman pangan (AUTP) di Kebumen, menurut Puji Rahayu persentasenya masih rendah. Dari 39.000 hektar lahan pertanian tanaman padi / padi, pada tahun 2016, hanya 1200 hektar tanaman yang diasuransikan.
Padahal, nilai premi per hektar per satu musim tanam yang dibayar petani Rp 36.000. Premi AUTP, sebagian ditanggung pemerintah.? Jika gagal panen petani mendapat santunan Rp 6 juta per hektar tanaman puso,” kata Puji Rahayu.
